Sabtu, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Sabtu, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Bijak Menyikapi Janji Kampanye

Jumat 22 Mar 2019 18:59 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Seniman Bambang Sriyanto (69 tahun) menyelesaikan pembuatan lukisan limbah cangkang telur bertema Pemilihan Presiden 2019 melalui media guci di rumahnya di Perumnas Bantarjati, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/3/2019).

Seniman Bambang Sriyanto (69 tahun) menyelesaikan pembuatan lukisan limbah cangkang telur bertema Pemilihan Presiden 2019 melalui media guci di rumahnya di Perumnas Bantarjati, Kota Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/3/2019).

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Dalam Islam Janji merupakan bagian dari keimanan dan keislaman

Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 akan segera digelar. Sebelum pelaksanaan Pilpres dan Pileg biasanya diawali dengan pengenalan calon Presiden, Wakil Presiden dan Anggota Dewan dari tingkat daerah hingga pusat kepada masyarakat melalui kegiatan yang dinamakan kampanye.

Kampanye merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para calon sebagai sarana komunikasi, pengenalan diri, mendapatkan dukungan, memaparkan visi misi, rencana program apabila terpilih, dan utamanya sebagai sarana pendidikan politik.

Baca Juga

Dalam pasal 77, UU No. 8 Tahun 2012 dinyatakan, kampanye pemilu merupakan bagian dari pendidikan politik masyarakat dan dilaksanakan secara bertanggungjawab. Bertanggungjawab berarti kampanye dilaksanakan sesuai ketentuan berlaku. Dan, setiap janji dalam kampanye dapat dipertanggungjawabkan setelah terpilih.

Kampanye seringkali dijadikan sarana mengobral janji untuk meraih simpati. Janji seakan menjadi satu-satunya cara yang efektif untuk mempengaruhi masyarakat. Seakan dengan janji itu rakyat akan memilihnya. Setelah terpilih, acap kali janji dalam kampanye terlupakan. Akhirnya, janji tinggal janji.

Sebagai calon pemilih (masyarakat), kita tidak boleh mudah tergoda dengan janji-janji yang ditebar oleh calon pemimpin dan wakil rakyat. Jika dengan janji masyarakat tergoda maka akan lahir pemimpin dan wakil rakyat yang hanya pandai obral kata tanpa dibarengi bukti nyata.  

Dalam Islam, janji itu merupakan bagian dari identitas keimanan dan keislaman. Setiap orang beriman diperintahkan untuk memenuhi janji-janji yang dibuatnya. ”Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu...” (QS al-Maidah [5] :1).

Dalam Alquran terjemahan Departemen Agama Republik Indonesia, dijelaskan bahwa aqad (perjanjian) itu mencakup janji setia kepada Allah dan perjanjian dalam pergaulan antar sesama manusia. 

Indikator orang beriman yang akan mendapatkan kebahagiaan hidup adalah yang suka memenuhi amanah dan janjinya (QS al-Mukminun [23]: 1 dan 8). Sedangkan, orang yang suka ingkar janji dikategorikan sebagai munafik. Cirinya, jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khianat (HR Bukhari dan Muslim).

Alwa’du dainun, janji adalah utang. Orang yang dibebani utang akan merasa hilang kebebasannya. Ia akan dibelenggu tuntutan untuk melunasinya. Karenanya, Nabi SAW mengingatkan agar hati-hati dengan utang, utang itu suatu kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari (HR Ahmad).

Masyarakat berharap, kampanye yang digelar tidak dijadikan sarana mengumbar janji yang mendorong kepada kesombongan dan membanggakan kelompoknya yang paling benar dan baik sehingga layak dipilih.

Jika ini yang terjadi, akan lahir pemimpin yang hanya pandai berjanji dan bohong, sedangkan dirinya sendiri sama sekali tidak berpikir, apalagi berbuat untuk kepentingan bangsa dan masyarakat yang dipimpinnya.

Berhati-hatilah dalam berjanji, setiap ucapan (janji) yang diucapkan akan dimintai pertanggungjawaban, di hadapan manusia di dunia, dan di hadapan Allah SWT di akhirat. Jika seseorang dapat berkelit di dunia atas pengingkaran janji, ingat di akhirat tidak akan dapat menghindar dari pertanggung jawaban atas janji yang dibuatnya. 

Melalui Pilpres dan Pileg ini masyarakat berharap terpilih pemimpin dan wakil rakyat yang amanah dan dapat memenuhi janji-janjinya. Semoga.

Pengirim: Imam Nur Suharno, Kepala HRD Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA