Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Kekerasan Anak dan Rapuhnya Bangunan Keluarga

Kamis 04 Apr 2019 23:51 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi Kekerasan Anak

Ilustrasi Kekerasan Anak

Foto: Foto : MgRol112
Pada tahun 2018 KPAI mencatat terdapat 4.885 kasus kekerasan anak

Meningkatnya kasus kekerasan anak di Indonesia menjadi hal yang memprihatinkan. Baik yang sifatnya bullying, cyber crime, pelecehan seksual, maupun kekerasan fisik. Lokasi kejadiannya pun di tempat yang semestinya menjadi tempat bernaung bagi anak, tetapi kenyataannya tidak demikian.  

Baca Juga

Kasus inses di dalam keluarga dan pelecehan guru kepada siswa menjadi sedikit bukti dari sedemikian banyak kasus yang terjadi. Keadaan ini pun diamini oleh Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyatakan bahwa saat ini sekolah dan rumah belum tentu aman bagi anak.  Hal ini terlihat dari maraknya berbagai kasus kekerasan anak yang justru dilakukan oleh orang terdekat.

Pada tahun 2018 KPAI mencatat terdapat 4.885 kasus kekerasan anak yang dilaporkan.  Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2017 yaitu sebesar 4.579 kasus.

Hal ini tentu patut menjadi perhatian.  Terlebih anak adalah aset bangsa yang perlu mendapat didikan dan perlakuan yang baik untuk membentuk kepribadiannya.  Menarik untuk disimak apa yang diungkapkan oleh Hakim Paul Coleridge, Mantan Hakim Pengadilan Tinggi Inggris Divisi Keluarga, bahwa hampir semua penyakit masyarakat dapat ditelusuri (penyebabnya) secara langsung yakni runtuhnya kehidupan keluarga.

Keluarga sejatinya merupakan sendi pertahanan kehidupan seseorang. Keluarga yang harmonis akan mewujudkan kebahagiaan dari tiap diri anggotanya untuk kemudian memancar di lingkungannya. Sebaliknya, jika keluarga koyak akan tercerai berailah kehidupan seseorang yang berimplikasi pada rusaknya tatananan kehidupan masyarakat dan negara.   

Saat ini kehidupan hedonis dan liberal telah merenggut sendi-sendi kehidupan keluarga. Sistem kapitalistik yang diterapkan pun mempengaruhi pola hidup keluarga dan masyarakat.

Figur ayah dan suami terkikis hanya sebagai pencari nafkah, sosok istri dan ibu pun kini tak luput untuk memiliki peran ekonomi karena kebutuhan yang semakin mendesak sehingga abai terhadap pengasuhan anak-anaknya.  Akibatnya anak-anak kurang kasih sayang kemudian mencari panutan dari tontonan, game, media sosial, dan figur lain yang jauh dari nilai-nilai agama.

Akhirnya tercetak anak-anak yang berperilaku tidak ahsan, melakukan bullying, dan mudah melakukan tindak kekerasan.  Belum lagi jika ayah dan ibunya juga rusak akibat tata nilai hedonis dan liberal tadi sehingga ikut merusak buah hati dan lingkungannya.

Terkait hal tersebut, Islam memandang bahwa keluarga adalah bangunan yang sangat penting dengan berbagai fungsi yang menyertainya. Islam juga memiliki pengaturan yang detail dalam penguatan sistem secara berjenjang dari individu, keluarga itu sendiri, negara, dan masyarakat di semua lini kehidupan.

Sehingga tindak kekerasan akan diminamilisir karena telah tumbuh individu-individu bertakwa dengan suasana lingkungan yang kondusif. 

Oleh: Ruruh Anjar, Lampung

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA