Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Monday, 22 Ramadhan 1440 / 27 May 2019

Menjadi Lebih Aman dan Nyaman di Dalam Kereta Api

Jumat 22 Mar 2019 18:00 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Stasiun Bogor. Sejumlah penumpang KRL berada di kereta di Stasiun Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (11/3).

Stasiun Bogor. Sejumlah penumpang KRL berada di kereta di Stasiun Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (11/3).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Inovasi penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang kereta api

Kereta api merupakan alat transportasi kereta modern yang berkembang seiring dengan perkembangan revolusi industri, ekspansi, dan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Tempat pembehertiannya sering kita sebut stasiun. Banyak fasilitas menarik yang dapat kita cermati di stasiun.

Dimulai dari mesin pencetakan tiket yang menggunakan kode booking hingga beberapa fasilitas seperti ATM Center, restaurant, kios-kios makanan, toilet, mushola, ruang tunggu, lounge (stasiun tertentu), jalur kereta yang terdiri dari peron-peron dan adanya tanda/simbol perkereta apian. Di sini terdapat hal yang membuat penulis tertarik adalah adanya garis kuning yang berada pada ruang tunggu kereta di dekat rel.

Baca Juga

Garis tersebut merupakan batas penumpang agar tidak terlalu dekat dengan kereta pada saat datang. Apabila terlalu dekat, tentu sangat berbahaya bagi keselamatan penumpang. Dikhawatirkan penumpang dapat terseret kereta yang belum berhenti sepenuhnya dan terjepit di sela-sela antara kereta dengan batas peron.

Fenomena tersebut sangat mungkin terjadi dan bahkan memang sudah ada beberapa kejadiannya. Kebiasaan penumpang yang tidak sabar untuk segera naik kereta api yang belum berhenti dapat menjadi petaka yang serius. Penumpang biasanya terburu-buru masuk ke kereta agar memperoleh jatah tempat bagasi yang masih kosong. Karena mereka berpikir jika keduluan orang lain, mereka tidak memperoleh tempat bagasi yang berada di atas kursi duduk penumpang.

Terlebih lagi bagi mereka yang membawa koper besar dan tentengan banyak. Mereka khawatir kopernya tidak memperoleh tempat dan meletakkan barangnya disela-sela kaki ataupun di bawah kursi yang  dapat mengganggu kenyamanan penumpang. Sehingga sangat mungkin apabila penumpang yang berjejer-jejer di batas peron, secara tidak sengaja saling dorong untuk segera masuk kereta. Tentu sangat berbahaya apabila kereta belum sepenuhnya berhenti. 

Menurut pandangan penulis, kasus dorong-dorongan yang tidak disengaja dapat menimbulkan kekhawatiran bagi keselamatan penumpang. Peron yang tidak ada pembatasnya menimbulkan berbagai kemungkinan penumpang terjatuh di sela-sela kereta dan peron.

Di samping itu, juga dapat menimbulkan kejahatan bagi orang yang tidak bertanggungjawab yang berniat untuk mencelakakan penumpang lain. Misalnya saja ada orang yang dengan sengaja mencopet di tengah kerumunan penumpang yang sedang menanti kereta berhenti dan berakibat penumpang yang dicopet jatuh di sela-sela peron.

Tentu semua itu dapat membahayakan penumpang. Meskipun sudah ada petugas yang mengingatkan penumpang untuk berdiri di belakang garis kuning, namun penulis pikir kita dapat memberikan inovasi baru untuk menjamin keselamatan penumpang yang sedang menanti kedatangan kereta.

Inovasi menurut penulis dapat memberikan pintu pagar otomatis yang dirancang sedemikian rupa untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti terpeleset dan jatuh di sela-sela peron. Sistem operasinya sangat sederhana yaitu ketika kereta akan masuk, pintu pagar yang berada di atas garis kuning harus dalam keadaan tertutup. Gunanya agar membatasi penumpang untuk tidak buru-buru masuk kereta ketika kereta masih dalam keadaan jalan.

Kemudian ketika kereta benar-benar berhenti, pintu pagar tersebut akan terbuka secara otomatis. Setelah itu penumpang dapat menaiki kereta dengan aman, karena kondisinya sudah dalam keadaan berhenti. Hal ini dapat diterapkan ke seluruh stasiun kereta api. Seperti yang ada di Jakarta yang menggunakan kereta commuter line (KRL).

Telah menjadi konsumsi publik bahwa penumpang KRL di Jakarta jumlahnya melimpah setiap harinya.  Setiap hari orang bekerja, bersekolah mengandalkan KRL yang dapat mengantarkan ke beberapa daerah seperti Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, dan lainnya sekitar Jakarta.

Penulis menjadi saksi bahwa banyak keriwehan di setiap stasiun yang dilewati oleh KRL. Apalagi stasiun transit seperti Manggarai dan Tanah Abang. Luar biasa “ruwet” dan luar biasa ramai ketika orang banyak yang berlalu lalang di stasiun tersebut.

Ada yang hanya ngobrol di sekitar peron, ada yang menunggu kereta datang, dan ada yang memang berlalu lalang hendak menuju ke tempat tertentu. Semua jadi satu di dalam peron yang sama, yang notabene peron itu sebagai tempat menunggu kereta datang.

Konon katanya tempat yang ramai sangat rawan pencopetan terjadi. Jika dibayangkan ketika banyak penumpang KRL yang sedang menunggu kereta datang di pinggir-pinggir peron, kemudian terjadi pencopetan. Besar kemungkinan akan terjadi kepanikan bagi si korban dan kaget, bisa saja terjatuh di sela-sela peron dan pada saat itu ada kereta datang.

Apa akibatnya? Tentu sangat serius, karena di situ ada ratusan orang berjejeran, “bertumpuk-tumpuk” dan kecelakaan apapun bisa saja terjadi.

Maka dari itu, manajemen resiko terhadap keamanan lingkungan stasiun perlu ditingkatkan lagi. Perlu adanya pintu pagar otomatis yang membatasi penumpang agar tidak mudah terjatuh di sela-sela peron dengan rel kereta. Pastinya hal tersebut dapat membentuk ketertiban penumpang dan terlihat rapi.

Hal ini merupakan pandangan sisi keamanan dari luar kereta. Apabila dilihat dari sisi keamanan dalam kereta khususnya KRL, kita dapat menerapkan check and balances sebelum memasuki stasiun KRL. Di dalam kereta KRL ada larangan tidak memboleh senjata tajam dan berbagai larangan lainnya.

Tapi apabila diilihat sesuai pengalaman penulis, tidak ada treatment khusus yang mendeteksi barang apa saja yang dibawa oleh penumpang. Tidak ada mekanisme seperti apa yang dilakukan petugas yang mengecek ketika kita hendak masuk ke pesawat.

Tentu saja penumpang dapat membawa barang dengan bebasnya. Kita tidak bisa tahu apakah di dalam KRL ada yang membawa senjata tajam, senjata api atau tidak. Apabila memang ada yang kecolongan membawa senjata tajam/api, besar kemungkinan dapat terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan di kereta.

Solusi yang nyata untuk mengatasi hal tersebut adalah menyusun sistem manajemen risiko yang handal dengan cara memberikan treatment pengecekan barang bawaan penumpang, dapat menggunakan mesin x-ray atau mesin pengecekan lain guna mendeteksi barang-barang yang dilarang. Meskipun kejadian seperti terjepit di sela-sela peron dan kriminalitas di dalam kereta masih terbilang jarang terjadi, namun kita patut mengantisipasi semuanya itu.

Mengingat semakin ke sini populasi manusia semakin bertambah dan semakin banyak tindak kejahatan yang mungkin saja terjadi. Tidak perlu menunggu ada korban lebih banyak untuk memperbaiki sistem yang ada. Melalui bantuan pemerintah, yang berperan dalam pembangunan infrastruktur dapat menjadi alternatif untuk memperbaiki sistem pengamanan yang ada di stasiun kereta. Semoga tidak hanya mimpi semata, namun dapat direalisasikan dengan baik. Sebelum ada korban dan sebelum ada kejadian buruk lainnya. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati.

Penulis : Nova Enggar Fajarianto, pengguna Kereta Rel Listrik Jabodetabek, Jakarta

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA