Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Balance for Better dengan Islam

Selasa 19 Mar 2019 10:17 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Muslimah Indonesia (ilustrasi).

Muslimah Indonesia (ilustrasi).

Foto: Reuters/Nyimas Laula
Islam menempatkan wanita sebagai pengokoh peradaban.

Perayaan International Women's Day atau Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret 2019 lalu mengusung tema "balance for better". Dalam situs resminya, International Women's Day mengungkapkan alasan tema tersebut yang ditujukan untuk kesetaraan gender, kesadaran yang lebih besar tentang adanya diskriminasi dan merayakan pencapaian perempuan.

Baca Juga

Hal ini termasuk mengurangi adanya jarak pendapatan atau gaji pria dan wanita. Memastikan semuanya adil dan seimbang dalam semua aspek, pemerintahan, liputan media, dunia kerja, kekayaan dan dunia olahraga.

Dari apa yang dipaparkan tampak jelas bahwa tuntutan kesetaraan dan keberdayaan perempuan hanya dinilai dari aspek materi, keluarnya perempuan ke sektor publik dan perolehan pundi-pundi ekonomi. Hal ini sejalan dengan pandangan perempuan dalam kapitalisme. Perempuan adalah faktor produksi.

Oleh karenanya dituntut menghasilkan pundi-pundi ekonomi dan penggerak roda perekonomian kapitalisme. Jumlah perempuan yang lebih banyak dari laki-laki harus dimanfaatkan sebagai modal produksi untuk mengokohkan hegemoni kapitalisme di dunia. Alih-alih ditempatkan sesuai peran dan fitrahnya, perempuan dituntut berdaya dengan bekerja sehingga bisa dikatakan setara dengan laki-laki.

Setelah banyak perusahaan yang membuka peluang kerja perempuan dan lebih menyukai pekerja perempuan karena gaji yang lebih rendah dibanding laki-laki, kini organisasi perempuan menyasar kesetaraan gaji. Motif penyetaraan ini tetap menempatkan perempuan bukan pada fitrahnya.

Penyetaraan gaji perempuan dan laki-laki agar perempuan lebih banyak lagi yang keluar untuk bekerja. Jika perempuan dituntut bekerja untuk dikatakan berdaya dan setara, Lalu dimanakah letak perempuan sebagai pendidik utama dan pertama bagi anaknya? Lalu dimanakah peran perempuan menjadi tiang  negara tonggaknya peradaban pencetak generasi? 

Ide kesetaraan yang mengalihkan semua perempuan untuk setara dengan laki-laki. Untuk bekerja menghasilkan uang. Untuk tampil di publik dan meninggalkan fungsi dan peran utamanya. Ini adalah ide yang keliru dan jauh dari fitrah perempuan dari Pencipta-Nya.

Berbeda halnya dengan kapitalisme.,Islam mendefinisikan perempuan berdaya dengan optimalisasi peran dan fungsinya sebagai ummu wa rabbatul bayt dan ummu ajyal (ibu generasi). Islam menempatkan perempuan sesuai fitrahnya yaitu menjadi ibu yang mengayomi anak-anaknya, sebagai pendidik pertama dan utama (madrosatul ula), mengurus rumah tangga suaminya, agar terjadi keseimbangan dalam institusi yang paling kecil yaitu keluarga.

Peran dan fungsi terbesar perempuan ada dalam rumahnya, fungsi terbesarnya dalam rumah tangganya. Peran dan fungsinya memiliki andil besar dalam menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Rumah tangga yang penuh ketenangan, cinta kasih dan mendapatkan rahmat dari Allah. Disinilah kemuliaan perempuan atas peran dan fungsinya. 

Tidak ada larangan bekerja keluar bagi perempuan. Perempuan pun bisa mengambil perannya di sektor publik. Namun, kebolehan bekerja bagi perempuan tidak serta merta membuatnya harus bekerja dan menghasilkan pundi-pundi ekonomi seperti layaknya laki-laki.

Islam telah mengatur perihal nafkah yang ada dipundak laki-laki, baik suami, bapak, atau saudara laki-lakinya. Sehingga satu sisi perempuan boleh mengaktualisasi dirinya namun tidak perlu bersaing dengan laki-laki untuk bekerja apalagi menuntut untuk setara. 

Sudah banyak fakta yang berbicara, bahwa dengan seorang ibu bekerja maka institusi keluarga mulai rusak. Kenakalan remaja karena kosongnya perhatian orang tua terutama peran ibu yang teralihkan karena bekerja, kisah perceraian karena perselingkuhan dan gaji istri yang lebih besar dari suami. Dan berbagai fakta lainnya karena ide kesetaraan dan pemberdayaan yang menuntut perempuan bekerja. 

Islam menetapkan kesejajaran derajat laki-laki dan perempuan pada ketaatan mereka terhadap aturan Allah, bukan pada bentuk fungsi dan perannya. Islam memberikan peluang menuntut ilmu (pendidikan) yang sama baik laki-laki dan perempuan.

Islam juga memberikan ruang bagi perempuan untuk beraktivitas sosial di masyarakat dengan dakwah dan interaksi di masyarakat. Islam menempatkan wanita sebagai pengokoh peradaban. Dari tangan dan perannya yang sesuai fitrah lahirlah generasi yang membangun peradaban Islam yang cemerlang. Sejatinya konsep "balance for better" sudah dimiliki oleh Islam.

Peran dan fungsi perempuan yang sesuai dengan fitrah dan tuntunan Islam menjadikan keseimbangan kehidupan laki-laki dan perempuan. Keseimbangan dalam membangun generasi, bangsa dan negara. Peran dan fungsi perempuan ini hanya bisa optimal jika syariah Islam yang menyeluruh ditegakkan oleh negara. Oleh karena itu, kaum muslimah wajib dan urgen terlibat dalam penegakkan Islam kaffah.

Pengirim: Asma Abdallah, Jakarta

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA