Rabu, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Rabu, 19 Sya'ban 1440 / 24 April 2019

Perempuan, Pilar Peradaban Gemilang

Selasa 26 Mar 2019 11:51 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Anak dan ibu sedang belajar di rumah.

Anak dan ibu sedang belajar di rumah.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Islam terbukti secara historis memuliakan dan menyejaterahkan laki dan perempuan

Islam memandang bahwa, keberhasilan seorang perempuan terukir bukan ketika ia mampu bersaing dengan laki-laki atau berkiprah diluar rumah. Melainkan dari kesuksesannya membersamai suami dan mampu mencetak generasi emas dan berkualitas. Ya, generasi penerus agama dan bangsa, serta pemimpin dimasa depan.Dari rahimnyalah lahir generasi-generasi emas penakluk dunia.

Karena itulah, Islam menetapkan bahwa peran utama perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Ia menjadi al-Madrasah al- Ula bagi anak-anaknya.Diciptakan oleh Allah SWT dengan kemampuan reproduksi yang tidak bisa digantikan oleh kaum laki-laki. Memiliki kewajiban  menjalankan fungsi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Itulah amanah yang mulia dan penting bagi umat, karena kemajuan umat berangkat dari berhasilnya organisasi terkecil yakni sebuah keluarga.

Baca Juga

Seorang perempuan berperan penuh terhadap tanggung jawab yang besar ini.Sebab, ia diibaratkan sebagai tiang dan fondasi sebuah rumah, karena begitu penting perannya dalam sebuah keluarga. Kasih sayangnya adalah nutrisi batin  dan penyemangat bagi anak-anaknya. Saat menjadi istri, ia bukan hanya sebatasibu,  melainkan ia juga adalah mitra sekaligus sahabat suaminya. 

Kita bisa melihat sejak awal mula munculnya Islam, Siti Khadijah adalah orang pertama yang mengakui kebenaran Islam dan masuk dalam jajaran as-SabiqunalAwwalun.Perempuan cantik dan kaya raya ini banyak dilirik pembesar Quraisy untuk dipersunting, namun lebih rela dinikahi pemuda miskin bernama Muhammad. Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajah atau kekayaan yang ia miliki.

Namun karena pengorbanan yang demikian fenomenal dalam mendukung perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Khadijahlah salah satu sumber kekuatan Rasulullah SAW dalam mengemban risalah Islam dan pendukung setia Rasulullah SAW berdakwah dalam suka maupun duka.

Atau siapa yang meragukan kegigihan ibunda seorang Imam Syafi’i, salah satu mujtahid besar dan merupakan salah satu imam mazhab yang populer dalam agamaini. Beliau terlahir dalam keadaan yatim dan miskin. Dan ibunyalah yang mendidik dan mengarahkan Syafi’i kecil sehingga berhasil menjadi ulama besar.

Ibunya, Fatimah binti Ubeidillah selalu menjaga makanan, minuman, kesehatan serta daya fikir Imam Asy-Syafi’i sejak kecil. Catatan fantastis ditorehkan Imam Syafi’i yang telah hafal Alquran pada usia yang masih belia, yaitu 9 tahun.Suatu kemampuan yang luar biasa dan di atas rata-rata bagi kebanyakan orang.

Selain itu, Ada lagi Al Khansa, ia mengumpulkan keempat putranya untuk memberikan pengarahan dan mengobarkan semangat kepada mereka untuk berperang dan tidak lari dari peperangan serta mengharapkan syahid di jalan Allah. Hingga akhirnya sosok ibu tangguh di zamannya ini  rela melepas anaknya pergi berjihad hingga keempat putranya menjemput syahid di medan perang. 

Semua itu terjadi saat Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Perempuan diposisikan sesuai fitrah dan kedudukannya.  Kedudukan perempuan yang sebelumnya berada dibawah kezaliman seperti boleh diwariskan, dikungkung paksa dan diperjual-belikan, berubah menjadi mulia dan terhormat.

Allah juga telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kedudukan antara laki-laki dan perempuan sama, keduanya mendapat perlakuan yang sama sesuai batas kemampuan dan kodrat masing-masing. Inilah sebuah undang-undang bijak yang telah membebaskan wanita dari perbudakan Jahiliyah menuju kemerdekaan Islam. Dari jurang kehinaan, kenistaan, ketidakberdayaan menuju martabat kehormatan, kemuliaan dan kemerdekaan.

Sayangnya, ketika Islam dicampakkan dari kehidupan, lalu diterapkan sistem sekular-liberal, kaum perempuan dirundung keprihatinan yang menyesakkan. Sejak itu, kedukaan menyelimuti kehidupannya. Mereka tak lagi menjadi pilar peradaban. Namun menjadi tumbal peradaban sistem kapitalis – sekular. Terjajah dan tereksploitasi oleh kerusakan sistem kapitalis-sekular yang dipaksakan dalam kehidupan.

Perempuan tak lagi mulia dan terhormat. Auratnya diumbar atas nama kebebasan berekspresi dan eksplorasi diri. Kemiskinan yang mendera akibat sistem kapitalis, menjadikan mereka terpaksa mengais rezeki sendiri hingga tak jarang meninggalkan peran utamanya dirumah untuk anak dan suami.Penyiksaan, penganiayaan, pembunuhan, seolah menjadi tontonan sehari-hari.

Kaum perempuan tak lagi tinggi martabatnya. Lihatlah bagaimana angka perceraian, pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan yang kian meninggi. Keluarga berantakan, anak pun menjadi korban.

Inilah pula alasan yang kerap kali digaungkan kaum feminis agar perempuan bangkit dari keterpurukan. Akibatnya, banyak perempuan yang tak memahami bagaimana Islam mengatur peran laki-laki dan perempuan.

Peran domestiknya sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga dianggap mengekang dan rendahan. Pakaian muslim yang menutup keindahan tubuhnya dianggap mengungkung kebebasan. Islam dianggap tak adil memberi porsi, dituding diskriminasi dan mempersekusi.

Poligami, pembagian warisan, hak wali, hak asuh anak, kepemimpinan dan segudang hukum Islam lainnya mereka gugat. Padahal, ketertindasan dan kemalangan berkepanjangan yang menimpa perempuan disebabkan kehidupan kapitalis – sekular yang menjauhkan agama dari kehidupan.

Maka, tidak seharusnya kita menjadikan ide feminisme sebagai jalan kebangkitan perempuan. Sebab, Islam terbukti secara historis mampu memuliakan dan menyejahterakan. Karena, setara sesungguhnya tak berarti sama. Laki-laki dan perempuan diciptakan sesuai fitrah dan posisi masing-masing. Sebagai manusia dan hamba, ketakwaanlah yang menjadi barometer tingkat ketinggian derajat seseorang, baik laki-laki maupun perempuan.

Sehingga, sejatinya tidak ada siapapun yang mengungguli siapapun, kecuali atas dasar ketakwaannya di sisi Allah SWT, sebagaimana firman Allah, "Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita, sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (QS. An-Nisa [4]: 124).

Adanya laki-laki dan perempuan diciptakan tak sama bukan dalam rangka siapa yang paling istimewa, namun bertujuan agar kelestarian keturunan manusia tetap terjaga sesuai fitrahnya.

Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling beriringan bukan bertentangan. Saling melengkapi kekurangan, bukan menjadi jurang perbedaan. Hanya dengan pengaturan Islam, mereka terpelihara kodratnya sebagai manusia dan hamba Allah SWT.WalllahuA’lam Bissawab

Pengirim: Fitriani, Perempuan, tinggal di Baubau, Sulawesi Tenggara

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA