Bazar Takjil Benhil Berdiri Sejak 1985

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Indira Rezkisari

 Ahad 12 May 2019 15:15 WIB

Warga membeli makanan untuk berbuka puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Senin (6/5). Foto: Republika/Putra M. Akbar Warga membeli makanan untuk berbuka puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta, Senin (6/5).

Sebelum pemugaran pasar, 100 meja bisa berjualan di bazar takjil Benhil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar Bendungan Hilir atau Benhil, Jakarta Pusat, berubah menjadi sentra takjil saat memasuki bulan Ramadhan. Selama awal Ramadhan hingga malam takbir jelang perayaan Idul Fitri, para penjual akan menjajakan dagangan.

Mulai pukul 11.00 WIB hingga 19.00 WIB, pengunjung dapat menikmati berbagai jajanan, makanan dan minuman khas Nusantara sebagai menu berbuka puasa.

Menurut Remond (47) Koordinator pengawas Lapangan pasar Benhil, bazar telah dimulai sejak tahun 1985. Waktu itu, dia mengatakan bazar Benhil di gagas oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Forum Peduli Benhil (FPB).

"Penggagas awalnya sudah meninggal. Namanya Bang Daeng, dia dikatakan sebagai pendiri bazar Benhil ini melalui Forum Peduli Benhil," kata Remond saat ditemui di lokasi, beberapa waktu lalu.

Pada awalnya, bazar Benhil hanya menjual takjil ala kadarnya seperti es dan gorengan saja. Namun, karena antusiasme masyarakat begitu tinggi, akhirnya takjil pasar Benhil mulai dikenal luas dan para penjual mulai berdatangan untuk turut menjajajakan dagangannya di Benhil.

Sekitar tahun 2000-an, jumlah meja (sebagai alat hitung stand) untuk berjualan takjil hanya sekitar 15 meja. Puncaknya pada tahun 2010-2015 yang mencapai 100 meja. Namun karena terjadi pembagunan di sekitar pasar, bazar Benhil hanya mampu menampung 45 meja.

"Masih lumayan. Karena setiap mau puasa pasti sudah terisi semua," katanya.

Dia menjelaskan untuk berjualan di bazar Benhil, pedagang harus mendaftar melalui Remond atau panitia. Biasanya, dia mengatakan, lima hari sebelum puasa, pendaftaran sudah ditutup karena banyaknya pedaganag yang telah mendaftarkan dagangan mereka.

"Kalau terus saya terima pasti banyak (pedaganag) yang daftar terus. Karena tempatnya tidak ada, akhirnya sudah tutup 45 meja," jelasnya.

Dia menambahkan, pasar Benhil tak pernah sepi dari pengunjung. Ratusan orang setiap harinya terus berdatangan ke bazar Benhil itu. Hanya saja pertengahan minggu, seperti Rabu dan Kamis, pengunjung pasti menurun.

Meskipun ramai, Remond enggan mengungkapkan jumlah omset yang diperoleh di bazar Benhil. Dia mengatakan setiap penjual memiliki omset berbeda-beda sesuai dengan barang dagangan. "Di sini ada yang dagang, pempek, bubur kampiun, gorengan es cendol,  kan itu beda harga," jelasnya.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X