Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Disdagin Tanjungpinang Imbau Warga Konsumsi Daging Sapi Beku

Ahad 10 Jul 2022 09:50 WIB

Red: Fuji Pratiwi

Pegawai Perum Bulog menunjukan daging sapi beku saat pasar murah (ilustrasi). Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) Riany mengimbau masyarakat yang tidak bisa membeli daging sapi segar agar beralih mengkonsumsi daging beku.

Pegawai Perum Bulog menunjukan daging sapi beku saat pasar murah (ilustrasi). Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) Riany mengimbau masyarakat yang tidak bisa membeli daging sapi segar agar beralih mengkonsumsi daging beku.

Foto: ANTARA/Mohamad Hamzah
Selain lebih higienis dan ada izin edar BPOM, harga daging beku relatif lebih murah.

REPUBLIKA.CO.ID, TANJUNGPINANG -- Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) Riany mengimbau masyarakat yang tidak bisa membeli daging sapi segar agar beralih mengkonsumsi daging beku.

Menurut dia, selain lebih higienis dan ada izin edar BPOM, harga daging beku juga relatif lebih murah. Rasa daging sapi beku tidak berbeda dengan daging sapi segar.

Baca Juga

"Pemerintah telah menyediakan daging sapi beku sebagai alternatif. Jika biasanya Idul Adha stok daging beku di gudang Bulog hanya sekitar dua ton, sekarang ada lima ton," kata Riany di Tanjungpinang, Sabtu (9/7/2022).

Ia menjelaskan, dari hasil monitoring dan survei ke pedagang di pasar baru Tanjungpinang jelang perayaan Idul Adha, untuk harga kebutuhan pokok masih relatif stabil. Kecuali, daging sapi segar dan cabai mengalami kenaikan. "Untuk harga rata-rata daging sapi segar saat ini mencapai Rp160.000-Rp170.000 per kilogram, yang sebelumnya dipatok pedagang kisaran Rp130.000 per kilogram," ungkapnya.

Kenaikan itu, kata Riani, karena sampai saat ini Tanjungpinang belum menerima pasokan sapi dari luar Provinsi Kepri untuk mengantisipasi terkait Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap hewan ternak. Selain itu, belum ada rekomendasi dari badan karantina pertanian Tanjungpinang untuk menerima sapi dari luar guna menjaga agar sapi-sapi di Tanjungpinang tidak terkontaminasi PMK.

"Oleh karena itulah ketersediaan sapi minus. Biasanya pedagang memotong sapi sehari satu ekor, sekarang satu ekor untuk tiga hari. Ini pun diprioritaskan untuk langganan mereka saja, tapi kita juga sudah koordinasi dengan instansi terkait ketahanan pangan untuk daging sapi segar," ujarnya.

Sementara itu, Riany menyampaikan, saat ini untuk harga cabai merah juga sudah mengalami kenaikan hingga tiga kali lipat, yang semula di kisaran harga Rp40.000 per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp105.000-Rp110.000 per kilogram. "Harga ini yang diambil oleh distributor, nanti jika sampai ke pengencer bisa menjadi Rp120.000 per kilogram," sebutnya.

Menurut dia, kenaikan harga cabai ini bukan hanya terjadi di Tanjungpinang, tapi juga di tingkat nasional. Hal ini, disebabkan kenaikan harga pupuk hingga dua kali lipat di tingkat petani, sehingga berdampak dengan harga hasil panen.

"Namun, untuk kebutuhan pokok lainnya seperti telur, ayam, dan lainnya masih stabil," kata Riany.

 

sumber : ANTARA
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA