Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Thursday, 21 Zulhijjah 1440 / 22 August 2019

Pidato Natal di Vatikan, Paus Singgung Pendeta Pedofili

Rabu 22 Dec 2010 04:39 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Paus Benediktus XVI menyampaikan pidato kepada kardinal dan uskup di Vatikan

Paus Benediktus XVI menyampaikan pidato kepada kardinal dan uskup di Vatikan

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, KOTA VATIKAN--Paus Benediktus XVI menyeru kepada pejabat Vatikan, Senin (20/12) bahwa mereka mereka harus becermin terhadap kesalahan gereja atas skandal kekerasan seksual terhadap anak-anak. Namun ia juga menyalahkan masyarakat sekuler di mana kesalahan perlakuan terhadap anak-anak secara menakutkan juga sering terjadi.

Dalam tradisinya, pidato akhir tahun kepada kardinal dan bisop Vatikan, Paus mengatakan pengungkapkan kekerasan seksual pada 2010, tela mencapai 'tingkatan yang tak bisa dibayangkan. Kondisi itu, menurut dia meminta gereja untuk bisa menerima 'celaan' sebagai seruan untuk memperbarui diri.

"Kita harus bertanya pada diri sendiri apa yang salah dengan pengabdian kita, dalam seluruh cara hidup dalam kehidupan Kristian, bagaimana mungkin membiarkan hal itu terjadi," ujar Paus.

Paus juga mengatakan, bagaimanapun, skandal mesti dipandang dalam konteks sosial lebih luas di mana pornografi anak dilihat sebagai hal lumrah oleh masyarakata dan penggunaan narkotika serta wisata seks yang juga mengalami peningkatan. Psikologi penghancuran anak-anak di mana pribadi manusia direndahkan menjadi cinderamata, adalah tanda-tanda menakutkan zaman," ujarnya.

Pada 1970-a ketika pedofili dianggap bukan kejahatan mutlak, alih-alih perilaku itu dianggap sebagai bagian spektrum perilaku dimana orang-orang tak ingin menghakimi atas nama toleransi dan relativisme.

Ketiga sejumlah besar kasus-kasus pedofili pendeta menderas keluar ke publik, pejabat gereja kerap membela praktek sebelumnya dengan menempatkan pelaku ke terapi, bukan penjara. Alasan mereka itu adalah norma masyarakat saat itu. Hanya pada tahun ini, Vatikan akhirnya--lewat tayangan situs resmi mereka--secara tak resmi mengeluarkan panduan kepada uskup untuk melaporkan pendeta pedofil kepada polisi jika hukum lokal menghendaki.

"Pada tahun 1970-an, pedofilia diteorikan sebagai sesuatu yang sepenuhnya selaras dalam manusia dan juga anak-anak," ujar Paus. "Pandangan itu dipelihara-bahkan dalam wilayah pemahaman teologi Katholik, tidak ada sesuatu yang jahat atau baik, yang ada hanyalah 'lebih baik dari' dan 'lebih buruk dari'. Tidak ada sesuatu yang buruk atau baik dalam entitas itu sendiri," ujarnya.

"Kini dampak teori semacam itu menjadi bukti di masyarakat saat ini," ujarnya. Tradisi Pidato Natal kepada kardinal dan uskup Vatikan adalah pesan yang kerap ditunggu-tunggu, di mana Benedict menggunakan momen itu untuk fokus pada isu kunci dalam hirarki gereja.

Namun, tak semua pihak bisa menerima pidato sang Paus. "Sungguh menggangu secara mendasar menonton seorang lelaki secerdas itu bisa salah mendiagnosa dengan nyaman terhadap skandal mengerikan," ujar presiden kelompok Jaringan Korban Bertahan Pelecehan para Pendeta.

Ia mengatakan skandal itu bukanlah disebabkan oleh teori pada 1970-an namun lebih kepada budaya gereja yang penuh kerahasiaan dan kekakuan dan cenderung melindungi diri sendiri. Alhasil pendeta dan uskup pemangsa, kata dia, hanya dipindah-pindahkan alih-alih menyerahkan mereka ke penjara, sehingga mereka tidak didisiplinkan.

"Kapanpun Paus berbicara tentang pelecehandan kekerasan dan mulai beraksi terhadap tindakan itu, ia harus fokus terlebih dulu pada langkah-langkah praktis segera untuk mengatasi pelaku, pengabaian dan mengungkapkan siapa pendeta yang melakukan kejahatan seksual tersebut," ujar Blaine.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA