Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Jamiat Kheir, Perlawanan Melalui Pendidikan

Senin 25 Jan 2010 23:59 WIB

Red: Sadly Rachman

EMBED

Tekanan dari penjajah Belanda berpengaruh besar terhadap pergerakan umat Islam di Nusantara. Untuk mengembalikan pergerakan umat Islam ke jalan yang benar, kalangan pemikir dari Timur Tengah seperti Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh membawa gerakan pembaruan melalu pan islamismenya di Kampung Pekojan.  Perjuangan dua tokoh ini kemudian melahirkan sebuah organisasi islam di pekojan pada tahun 1901.

Organisasi ini diberi nama Jamiat Khair. Didirikan oleh Ali dan Idrus dari keluarga shahab. Organisasi ini tidak bergerak di bidang politik tetapi menitikberatkan pada semangat pembaruan melalui lembaga pendidikan modern.

Meski membangun basis perjuangan melalui pendidikan, Jamiat Khair tidaklah berbentuk sekolah agama melainkan sekolah dasar biasa dengan kurikulum modern. Para siswa tidak melulu diajarkan materi agama tetapi juga materi umum  seperti berhitung, sejarah atau ilmu bumi.

Rasa nasionalisme mulai dipupuk di organisasi ini. Hal itu terlihat dari penggunaan bahasa Melayu sebagai pengantar dan bukan bahasa Belanda. Selain itu, organisasi ini juga mewajibkan siswanya mempelajari Bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Belanda.  Sedangkan bahasa Arab dipelajari sebagai pengantar untuk materi keislaman. Organisasi ini juga tidak membedakan golongan ataupun status seperti yang dilakukan Belanda.  Ini lantaran siswa yang belajar tidak hanya golongan keturunan Arab tetapi juga warga bumiputera.

Jamiat khair juga berperan atas masuknya unsur-unsur modern dalam masyarakat Islam, misalnya  keberadaan anggaran dasar, daftar anggota, rapat-rapat berkala  dan mendirikan sekolah dengan cara-cara modern. Kelak di kemudian hari  organisasi ini menghasilkan tokoh KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan HOS Tjokroaminoto (pendiri Serikat IslamI) dan oraganisasi keislaman lain di nusantara.

Zaman telah berganti, demikian pula dengan Bangsa Indonesia yang telah meraih kemerdekaannya melalui perjuangan nan panjang dan melelahkan. Namun, keberadaan Jamiat Khair tetap konsisten menjadikan medium pendidikan sebagai basis perjuangan.

 

Camper: Agung / Reporter & Naskah: Agung S / Edited by Sadly"fafa"Rachman

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA