Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Studi Temukan Petunjuk Baru Covid-19 Bisa Sebabkan Kerusakan Otak

Jumat 08 Jul 2022 13:14 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Covid-19 bisa memicu munculnya gejala neurologis.

Covid-19 bisa memicu munculnya gejala neurologis.

Foto: Pixabay
Covid-19 bisa memicu munculnya gejala neurologis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi terbaru berhasil memberikan petunjuk mengenai bagaimana Covid-19 dapat memicu terjadinya kerusakan otak dan munculnya gejala neurologis. Studi ini dilakukan dengan mengautopsi jaringan otak beberapa pasien yang meninggal karena Covid-19.

Melalui berbagai penelitian, telah diketahui bahwa Covid-19 bukan hanya sekedar penyakit pernapasan. Dampak jangka pendek dan panjang dari infeksi SARS-CoV-2 juga bisa mengenai organ lain, termasuk otak. Kasus gumpalan darah dan strok juga cukup banyak ditemukan pada pasien Covid-19.

Baca Juga

Sebuah studi pada tahun lalu juga menemukan bahwa pasien Covid-19 memiliki kerusakan yang signifikan pada sel endotel pembuluh darah otak. Sel ini merupakan komponen penting pada sawar darah otak.

Peneliti lalu membuat hipotesis bahwa kerusakan sel endotel tersebut bisa memicu beragam gejala neurologis terkait Covid-19. Akan tetapi, pada waktu itu belum diketahui seperti apa proses patofisiologis yang mendasarinya.

"Pasien-pasien sering mengalami komplikasi neurologis pada Covid-19, tetapi proses patofisiologis yang mendasarinya tak begitu dipahami," jelas peneliti Avindra Nath, seperti dilansir New Atlas, Jumat (8/7/2022).

Studi terbaru yang dilakukan oleh National Institutes of Health berhasil memberikan petunjuk terkait pertanyaan besar tersebut. Setelah melakukan autopsi pada jaringan otak pasien yang meninggal dunia akibat Covid-19, tim peneliti menemukan bahwa kerusakan sel endotel primer di pembuluh darah otak tersebut berkaitan dengan respons imun abnormal.

Tim peneliti mengungkapkan bahwa aktivasi sel-sel endotel membawa trombosit yang menempel pada dinding pembuluh darah. Hal tersebut lalu menyebabkan gumpalan terbentuk dan kebocoran terjadi.

"Begitu kebocoran terjadi, sel-sel imun seperti makrofag bisa datang untuk memperbaiki kerusakan, lalu menyebabkan peradangan. Kondisi ini, pada akhirnya, menyebabkan kerusakan pada neuron," ujar Nath.

Meski beberapa studi mengindikasikan bahwa SARS-CoV-2 bisa terdeteksi di otak, studi terbaru ini tidak menemukan adanya jejak virus tersebut pada jaringan otak yang mereka investigasi. Oleh karena itu, masih menjadi misteri mengapa sistem imun bisa tiba-tiba menarget sel-sel yang sehat setelah infeksi SARS-CoV-2 terjadi.

Ini bukan kali pertama sebuah studi menyoroti penyebab di balik masalah neurologis pada kasus Covid-19. Sebelumnya, studi berskala kecil juga menemukan marker peradangan pada cairan seberospinal pada beberapa pasien long Covid yang mengalami gejala brain fog atau sulit berkonsentrasi. Temuan ini memberikan bukti kuat yang mengindikasikan bahwa respons imun persisten terhadap infeksi SARS-CoV-2 mungkin turut bertanggung jawab atas banyak aspek dalam kasus Covid-19 akut dan long Covid.

"Merupakan hal yang cukup mungkin bila respons imun yang ada pada pasien Long Covid menyebabkan cedera neuronal," jelas Nath.

Temuan-temuan terbaru ini tidak mengindikasikan bahwa terapi imunosupresif yang luas bisa menjadi obat untuk //long Covid//. Studi terbaru ini telah dipublikasikan dalam jurnal Brain.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA