Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Pengamat Politik: Perlu Kajian untuk Legalisasi Ganja Medis

Kamis 07 Jul 2022 21:16 WIB

Red: Ratna Puspita

Ilustrasi. Legalisasi ganja untuk medis memerlukan kajian terlebih dahulu agar produk hukum yang dihasilkan memiliki tujuan jelas dan dapat diterima masyarakat.

Ilustrasi. Legalisasi ganja untuk medis memerlukan kajian terlebih dahulu agar produk hukum yang dihasilkan memiliki tujuan jelas dan dapat diterima masyarakat.

Foto: Republika
Tanpa partisipasi masyarakat, legalisasi ganja medis akan kontraproduktif. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Nicky Fahrizal menilai, legalisasi ganja untuk medis memerlukan kajian terlebih dahulu. Hal ini agar produk hukum yang dihasilkan memiliki tujuan jelas dan dapat diterima masyarakat.

"Hal ini diperlukan agar produk hukum yang dihasilkan memiliki tujuan jelas, karena hukum merupakan salah satu instrumen untuk rekayasa sosial, sehingga hukum harus memiliki daya tahan, rasional, legitimasi," kata Nicky di Jakarta, Kamis (7/7/2022).

Baca Juga

Selain itu, ia mengatakan, perlu upaya edukasi lebih luas terkait penggunaan ganja untuk medis guna menghindari bias di masyarakat. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tahu dan paham bahwa upaya legalisasi ganja memiliki tujuan jelas untuk kebutuhan medis.

"Sebenarnya kalau saya melihat dari beberapa diskursus yang ada, legalisasi ganja untuk kebutuhan medis bertujuan sebagai alternatif pengobatan," tambahnya.

Berbagai sarana politik yang diambil untuk melakukan kajian tersebut bisa melalui focus group discussion (FGD), seminar, dan diskusi publik. Hal itu dapat membuka ruang bagi partisipasi publik, sehingga produk hukum yang dihasilkan bisa diterima masyarakat.

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno juga mendukung perlunya kajian dan sosialisasi terkait legalisasi ganja untuk medis. "Tentu saja harus juga mengundang semua elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, politisi, ahli hukum, tokoh agama, dokter, sampai dengan kelompok masyarakat, termasuk kelompok pro dan kontra untuk mendiskusikan rencana legalisasi ganja medis dalam suasana yang kondusif," kata Adi saat dihubungi.

Ia mengatakan, tanpa sosialisasi dan partisipasi masyarakat justru legalisasi ganja medis akan menjadi kontraproduktif dan bisa menimbulkan kegaduhan. Adi menyarankan agar regulasi legalisasi ganja medis dibuat ketat supaya tidak ada penyelewengan.

“Perizinan dan proses pembelian tentu harus diatur berdasarkan rekomendasi para dokter yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan ganja bagi kebutuhan medis,” tambahnya.

Dia juga menilai perlu ada pembentukan tim khusus untuk merekomendasikan tindakan jual dan beli ganja medis. “Kalau legalisasi ganja medis berlaku, regulasinya harus ketat dan sesuai aspirasi masyarakat,” ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA