Jumat 08 Jul 2022 02:23 WIB

Australia Tegaskan Dukung Presidensi G20 di Tengah Kesulitan

Australia sepakat G20 harus bekerja mencari solusi atas berbagai masalah global.

Menlu RI Retno Marsudi (kanan) dan Menlu Australia Penny Wong (kiri) melakukan pertemuan bilateral jelang Pertemuan Menlu G20 di Nusa Dua, Bali, Indonesia, 07 Juli 2022. Bali menjadi tuan rumah Pertemuan Menlu G20 selama dua hari pada 07-08 Juli 2022.
Foto: EPA-EFE/WILLY KURNIAWAN
Menlu RI Retno Marsudi (kanan) dan Menlu Australia Penny Wong (kiri) melakukan pertemuan bilateral jelang Pertemuan Menlu G20 di Nusa Dua, Bali, Indonesia, 07 Juli 2022. Bali menjadi tuan rumah Pertemuan Menlu G20 selama dua hari pada 07-08 Juli 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong kembali menegaskan dukungan negaranya terhadap presidensi Indonesia di G20 yang dijalankan di tengah situasi yang tidak mudah. Dukungan itu disampaikan Menlu Penny Wong dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi di sela-sela rangkaian kegiatan pertemuan Menlu G20 di Nusa Dua, Bali pada Kamis.

Kedua Menlu sepandangan bahwa kelompok 20 ekonomi besar dunia (G20) harus terus bekerja agar tetap relevan dan mampu membantu mencari solusi atas berbagai permasalahan ekonomi global, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Kamis.

Baca Juga

Menlu RI dan Menlu Australia juga termasuk anggota dalam forum MIKTA yang akan melakukan pertemuan pada hari yang sama di Bali di mana upaya mencari solusi damai di Ukraina menjadi salah satu agenda pembahasannya. MIKTA adalah kemitraan informal antara negara-negara kekuatan menengah, yakni Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia.

Dalam pertemuan bilateral itu, Menlu RI dan Menlu Australia juga membahas mengenai situasi terkini di Myanmar. Kedua Menlu sepakat mengenai pentingnya dialog nasional yang inklusif dan pentingnya mengembalikan demokrasi di Myanmar.

Para menteri luar negeri G20 akan berkumpul ketika dunia berjuang menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti dampak perubahan iklim, pandemi COVID-19, dan meningkatnya krisis ketahanan pangan.

Mengenai dampak perang Rusia-Ukraina, para anggota G20 juga akan membahas konsekuensi yang ditimbulkan perang itu pada inflasi, keamanan ekonomi, pasar energi internasional, serta perdamaian dan keamanan.

Secara kolektif, anggota G20 mewakili sekitar 80 persen ekonomi global, dua pertiga penduduk dunia, dan tiga perempat perdagangan internasional. G20 beranggotakan Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brazil, China, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Prancis, Rusia, Turki, dan Uni Eropa. Tahun ini adalah kali pertama Indonesia memegang presidensi G20.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement