Kamis 07 Jul 2022 17:18 WIB

Saham ARTO dan GOTO Bawa IHSG ke Zona Positif

Sore ini IHSG ditutup menguat tipis sebesar 0,09 persen ke level 6.652,58.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Karyawan berjalan di dekat layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi). Pada penutupan perdagangan Kamis (7/7/2022), IHSG menguat tipis sebesar 0,09 persen ke level 6.652,58
Foto: ANTARA/Aprillio Akbar
Karyawan berjalan di dekat layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (ilustrasi). Pada penutupan perdagangan Kamis (7/7/2022), IHSG menguat tipis sebesar 0,09 persen ke level 6.652,58

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan pada penutupan perdagangan Kamis (7/7/2022). IHSG menguat tipis sebesar 0,09 persen ke level 6.652,58 meski sempat ter gelincir ke zona merah di awal perdagangan.

Penguatan IHSG ditopang saham ARTO yang melesat naik hingga persen ke level 8.525. Selain itu, saham UNVR dan GOTO juga beekontribusi mengerek IHSG ke zona hijau dengan kenaikan masing-masing 4 persen. 

Baca Juga

Kenaikan IHSG sejalan dengan indeks saham di Asia yang mayoritas ditutup naik. "Hal ini karena investor memberi reaksi terhadap rilis data ekonomi AS dan Fed Minutes, catatan rapat kebijakan bank sentral AS, yang secara umum keluar positif," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Kamis (7/7/2022). 

Investor kesulitan menentukan pilihan antara khawatir terhadap risiko resesi dan rasa lega bahwa perlambatan ekonomi berpotensi menahan rangkaian kenaikan suku bunga acuan.

Data ekonomi AS terkini memperlihatkan jumlah lowongan kerja yang lebih besar dari ekspektasi dan kinerja sektor Jasa (Services) yang masih cukup solid. 

Data ekonomi berikutnya yang akan menjadi fokus perhatian investor adalah Non-Farm Payrolls (NFP) untuk bulan Juni yang di jadwalkan di rilis pada Jumat malam. Data NFP dapat memberikan gambara yang lebih utuh mengani kondisi ekonomi AS.

Dokumen Fed Minutes memperlihatkan pejabat bank sentral AS (Federal Reserve) mengakui kebijakan moneter yang lebih ketat akan lebih cocok jika ternyata inflasi sulit turun meskipun harga yang harus dibayar dari pengetatan kebijakan moneter adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Para pejabat Federal Reserve juga mengatakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 bps atau 75 bps sangat mungkin terjadi pada pertemuan kebijakan tanggal 26 – 27 Juli mendatang. 

Federal Reserve tampak khawatir mengenai ekspektasi inflasi yang tidak terkendali. Menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps dan memberi sinyal akan terus menaikkan suku bunga acuan akan memberi pesan kepada publik bahwa Federal Reserve mampu menjinakkan inflasi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement