Kamis 07 Jul 2022 13:28 WIB

Tugas Berat Menanti Galtier di PSG

Sebelumnya Pochettino dianggap gagal memenuhi ekspektasi tinggi PSG.

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Endro Yuwanto
 Christophe Galtier menghadiri konferensi pers di Stadion Parc des Princes, Selasa, 5 Juli 2022 di Paris, Prancis. Galtier menjadi pelatih ketujuh PSG dalam 11 tahun di bawah kepemilikan ambisius klub yang didukung Qatar. Adapun Mauricio Pochettino menjadi pelatih keempat berturut-turut yang dipecat selama periode itu.
Foto: AP/Thomas Padilla
Christophe Galtier menghadiri konferensi pers di Stadion Parc des Princes, Selasa, 5 Juli 2022 di Paris, Prancis. Galtier menjadi pelatih ketujuh PSG dalam 11 tahun di bawah kepemilikan ambisius klub yang didukung Qatar. Adapun Mauricio Pochettino menjadi pelatih keempat berturut-turut yang dipecat selama periode itu.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Paris Saint-Germain (PSG) kembali mencoba peruntungan pada musim ini setelah resmi menunjuk Christophe Galtier sebagai juru taktik baru menggantikan peran Mauricio Pochettino. Galtier pun memiliki keharusan untuk memikul beban besar menjadikan PSG raja di Benua Eropa.

Sebelas bulan lalu, Galtier ditodong pertanyaan tentang kans menjadi orang nomor satu di ruang ganti skuad Les Rouge et Bleu meneruskan tongkat estafet dari Thomas Tuchel ke Pochettino.

Baca Juga

Respons Galtier cukup sederhana. Ia menaruh rasa hormat kepada kedua eks ahli taktik PSG, pun menilai tim asal ibu kota Prancis itu memiliki dimensi internasional ketimbang klub-klub Ligue 1 Prancis lainnya.

Pembuktian Galtier datang setelah ia berhasil membawa tim papan tengah LOSC Lille menjuarai titel Ligue 1 2020/2021. Sejak saat itu, namanya mulai dikaitkan dengan PSG menggantikan Tuchel yang akhirnya berujung pada Pochettino.

Mimpi allenatore asal Prancis itu menjadi juru taktik Les Parisiens baru terjadi pada musim panas 2022. Ia secara resmi ditunjuk untuk menggantikan Pochettino yang didepak usai 18 bulan menangani Kylian Mbappe dkk.

Pochettino dianggap gagal memenuhi ekspektasi tinggi PSG setelah dalam kurun waktu tersebut hanya mempersembahkan satu gelar Ligue 1, satu Coupe de France, dan satu Piala Super Prancis.

Berinvestasi pun membakar banyak uang tiap bursa transfer dibuka memaksa petinggi PSG untuk mendorong kebijakan tinggi dengan mengharuskan tim menjuarai gelar Liga Champions, titel paripurna untuk klub berlogo Menara Eiffel tersebut.

Galtier yang kini berusia 55 tahun seakan dapat menjaring banyak harapan para petinggi klub pun pendukung Les Parisiens untuk merengkuh trofi si Kuping Besar. PSG adalah sebuah klub yang telah mengembangkan reputasi sebagai klub kaya raya namun kesuksesannya kerap terhenti ketika merumput di Liga Champions.

CEO PSG, Nasser Al-Khelaifi, mengaku senang bisa mendatangkan Galtier. Menurutnya, ia merupakan pelatih yang memiliki banyak pengalaman dan dapat membantu para pemain mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

"Kami senang menyambut Christophe Galtier. Rekam jejaknya luar biasa. Kami pun tentu sangat bangga memiliki pelatih asli Prancis dan menantikan babak selanjutnya dari pertumbuhan klub bersama Galtier," kata Al-Khelaifi dilansir The Athletic, Rabu (6/7/2022).

Al-Khelaifi sadar betul memilih Galtier jelas menuntut PSG untuk lebih bersabar dalam proses. Sebab, Galtier merupakan sosok yang perlu mendapat banyak ruang dan waktu demi membangun skuad kompetitif.

Galtier adalah sosok yang sangat dihormati di sepak bola Prancis, seseorang yang dipandang sebagai pelatih berbakat, cerdas secara emosional, dan mampu menghasilkan tim disiplin secara taktis.

Galtier dikontrak dengan durasi selama dua musim hingga 30 Juni 2024. Bagi Galtier itu merupakan waktu yang singkat dengan tanggung jawab besar.

"Saya sepenuhnya menyadari tanggung jawab untuk melatih tim yang luar biasa ini, salah satu tim paling kompetitif dan spektakuler di Eropa. Fokus saya adalah pada ambisi, kerja keras, dan memaksimalkan potensi tim," kata Galtier.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement