Monday, 17 Muharram 1444 / 15 August 2022

Pesantren di Ciamis Produksi Jamur Merang dari Limbah Aren

Rabu 06 Jul 2022 19:43 WIB

Rep: bayu adji p/ Red: Hiru Muhammad

Jamur merang yang diproduksi di unit usaha Pesantren Raudatul Irfan yang terletak di Dusun Sarayuda, Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat

Jamur merang yang diproduksi di unit usaha Pesantren Raudatul Irfan yang terletak di Dusun Sarayuda, Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat

Foto: dok bayu adji
Limbah penggilingan aren memiliki manfaat, apalagi limbah tersebut hasil pertanian

REPUBLIKA.CO.ID, CIAMIS--Sekitar 80 kilogram hingga 100 kilogram jamur merang diproduksi di unit usaha Pesantren Raudatul Irfan yang terletak di Dusun Sarayuda, Desa Kertaharja, Kecamatan Cijeunjing, Kabupaten Ciamis, setiap harinya. Jamur merang yang diproduksi di tempat itu memanfaatkan media tanam yang berasal dari limbah penggilingan pohon aren.

Pimpinan Pesantren Raudatul Irfan, KH Irfan Soleh, mengatakan, unit usaha jamur merang itu dikembangkan  sejak 2015, sebelum pondok pesantren diresmikan pada 2017. Saat ini, sudah terdapat sekitar 25 kumbung jamur yang ada di tempat itu. "Saat ini untuk jamur mentahan sekitar 80 kilogram hingga 1 kwintal per hari," kata dia, Selasa (5/7/2022).

Baca Juga

Ia menjelaskan, usaha produksi jamur itu berawal dari masalah yang ada di tanah kelahirannya tersebut. Sejak lama, tiga kampung di Dusun Sarayuda dikenal sebagai daerah penghasil tepung aci dari pohon aren. Namun, terdapat banyak limbah penggilingan pohon aren yang terbuang dari produksi tepung itu.

Di mata Kiai Irfan, limbah itu tak seharusnya dibuang begitu saja. Ia menilai, pasti ada manfaat dari limbah penggilingan aren tersebut. Apalagi, sisa penggilingan aren merupakan limbah pertanian.

Mulanya, Kiai Irfan mencoba untuk memanfaatkan limbah tersebut menjadi pakan ternak. Namun, pakan dari limbah itu kalah efektif dari jenis pakan lain yang sudah ada. Alhasil, percobaannya itu gagal.

Kegagalan itu tak membuat lelaki yang berasal dari tanah itu putus asa. Kiai Irfan mencoba mencari peluang usaha lain yang bisa dikembangkan dari limbah penggilingan pohon aren tersebut."Akhirnya kami coba jamur merang," ujar dia.

Percobaan itu tentu melalui berbagai proses. Sebelum mengembangkan budidaya jamur merang sendiri, Kiai Irfan sempat melakukan percobaan ke sebuah tempat budidaya jamur merang di Karawang. Ia menyewa satu kumbung, beserta para pekerjanya, untuk mengganti media tanam, yang biasanya menggunakan bekatul atau limbah tanamam padi, dengan limbah aren.

Percobaan itu dinilai berhasil. Kualitas dan produktivitas jamur merang dinilai lebih baik ketika menggunakan media tanam limbah aren dibandingkan menggunakan bekatul. Mulai dari situ, budidaya jamur merang akhirnya dikembangkan sendiri oleh Kiai Irfan di kampung halamannya."Alhamdulillah berhasil. Sekarang sudah ada sekitar 25 kumbung," kata dia.

Jamur merang yang diproduksi di Pesantren Raudatul Irfan itu kini telah dipasarkan ke sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Cikurubuk Tasikmalaya hingga Pasar Caringin Bandung. Harganya dibaderol sekitar Rp 35 ribu per kilogramnya. Artinya, omzet produksi jamur merang per hari bisa mencapai Rp 3,5 juta atau sekitar Rp 100 juta per bulan.

Namun, menurut Kiai Irfan, pemasaran jamur ke pasar tradisional dinilai memiliki risiko tersendiri. Pasalnya, umur jamur merang mentah itu hanya bertahan sekitar 6-8 jam. Setelah itu, kualitasnya akan turun. Harga jual otomatis ikut turun."Saya kemudian riset ke mana-mana. Dapat masukan untuk menjual jamur merang matang dalam kemasan. Tapi harga mesin pengalengan itu miliaran rupiah," ujar dia.

Dengan modal yang terbatas, Kiai Irfan tentu belum sanggup untuk membeli mesin kemasan itu. Namun, pesantrennya yang sempat menjuarai program One Pesantren One Product (OPOP) yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) akhirnya dipertemukan oleh Bank Indonesia (BI). Karena usaha jamur merang itu dinilai bermanfaat, Pesantren Raudatul Irfan mendapat bantuan prototipe mesin pengalengan skala rumahan yang nilainya sekitar Rp 400 juta dari BI.

Mesin itu memiliki kapasitas mencapai 500 kaleng per hari. Dengan adanya mesin itu, Kiai Irfan optimistis pemasaran jamur merang akan makin meluas. Apalagi, saat ini popularitas makanan dari tanaman terus meningkat karena masyarakat banyak sadar makanan sehat.

Ia bercita-cita produk merang dari pesantrennya itu dapat menyebar ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Namun, cita-cita Pesantren Raudatul Irfan untuk bisa memasarkan jamur merang siap santap dalam kemasan itu ke pasar modern masih harus tertunda. Sebab, hingga saat belum ada izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sertifikasi halal untuk produksi makanan itu. "Kami sekarang sedang proses mengurus izin CPPOB BPOM dan sertifikasi halal," kata dia.

Proses produksi jamur merang tak sepenuhnya dilakukan olehnya. Dalam memproduksinya, ia juga melibatkan para santri Pesantren Raudatul Irfan. Di pesantrennya terdapat sekitar 200 santri mulai dari tingkat SMP hingga SMA. Selain itu, terdapat juga sejumlah santri takhosus yang mondok di pesantren tersebut.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA