Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Peretas Diduga Bocorkan Data 1 Miliar Penduduk China 

Rabu 06 Jul 2022 13:53 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha

Polisi China berpatroli di kawasan pematang, Rabu, 1 Juni 2022, di Shanghai. Peretas mengklaim telah memperoleh kumpulan data 1 miliar orang China dari database kepolisian Shanghai dalam kebocoran yang, jika dikonfirmasi, bisa menjadi salah satu pelanggaran data terbesar dalam sejarah.

Polisi China berpatroli di kawasan pematang, Rabu, 1 Juni 2022, di Shanghai. Peretas mengklaim telah memperoleh kumpulan data 1 miliar orang China dari database kepolisian Shanghai dalam kebocoran yang, jika dikonfirmasi, bisa menjadi salah satu pelanggaran data terbesar dalam sejarah.

Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Seseorang menjual hampir 24 terabyte data berisi informasi penduduk China.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Seorang peretas mengklaim telah memperoleh data 1 miliar penduduk China dari database kepolisian Shanghai. Jika data ini dikonfirmasi, maka akan menjadi salah satu pelanggaran data terbesar dalam sejarah.

Dalam sebuah unggahan di forum peretasan online Breach Forums minggu lalu, seseorang yang menggunakan nama “ChinaDan” menawarkan untuk menjual hampir 24 terabyte (24 TB) data, yang berisi informasi tentang satu miliar warga China. Termasuk beberapa miliar catatan kasus kriminal. Seseorang itu menjual data tersebut senilai 10 Bitcon atau bernilai sekitar 200 ribu dolar AS.

Baca Juga

Data tersebut konon mencakup informasi dari database Kepolisian Nasional Shanghai termasuk nama, alamat, nomor identifikasi nasional dan nomor ponsel, serta perincian kasus. Sampel data yang dilihat oleh kantor berita The Associated Press mencantumkan nama, tanggal lahir, usia, dan nomor ponsel. 

Bahkan informasi tentang anak di bawah umur juga termasuk dalam data tersebut. Associated Press tidak dapat memverifikasi keaslian sampel data itu. Sementara lolisi Shanghai tidak menanggapi permintaan komentar.

Kebocoran data itu awalnya memicu diskusi di platform media sosial China, Weibo. Tetapi platform tersebut memblokir pencarian kata kunci untuk "kebocoran data Shanghai".

Satu orang mengatakan mereka skeptis dengan kebocoran data itu. Sampai akhirnya mereka berhasil memverifikasi beberapa data pribadi yang bocor secara online, dengan mencoba mencari orang-orang di Alipay menggunakan informasi pribadi mereka.

“Semuanya, harap berhati-hati kalau-kalau ada lebih banyak penipuan melalui telepon di masa depan," kata mereka dalam unggaha  di Weibo.

Para ahli mengatakan, jika pelanggaran itu benar, maka akan menjadi kebocoran data terbesar dalam sejarah. mitra dan Kepala Teknologi di firma riset kebijakan Trivium China, Kendra Schaefer, mengatakan, sulit untuk menguraikan kebenaran dari rumor yang sudah beredar. Tetapi rumor tersrbut dapat dikonfirmasi melalui file yang ada. Menurut Direktur Pelaksana di perusahaan keamanan Network Box yang berbasis di Hong Kong, Michael Gazeley, mengatakan, kebocoran data seperti itu cukup umum.

“Ada sekitar 12 miliar akun yang disusupi yang diposting di Dark Web saat ini. Itu lebih dari jumlah total orang di dunia," ujat Gazeley, seraya menambahkan bahwa sebagian besar kebocoran data berasal dari AS.

 

sumber : AP
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA