Selasa 05 Jul 2022 13:01 WIB

Korsel akan Tingkatkan Kontribusi Energi Nuklir Jadi 30 Persen

Titik balik Korsel menuju kebijakan energi pro nuklir terjadi usai Yoon menang pemilu

Presiden baru Korea Selatan Yoon Suk Yeol melambai dari mobil setelah Pelantikan Presiden di luar Majelis Nasional di Seoul, Korea Selatan, Selasa, 10 Mei 2022.
Foto: AP/Lee Jin-man
Presiden baru Korea Selatan Yoon Suk Yeol melambai dari mobil setelah Pelantikan Presiden di luar Majelis Nasional di Seoul, Korea Selatan, Selasa, 10 Mei 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Korea Selatan berencana meningkatkan kontribusi energi nuklir dalam bauran sumber energinya menjadi 30 persen atau lebih pada 2030. Pada 2021, kontribusi energi dari nuklir baru 27,4 persen.

"Ketika tren netralitas karbon global berlanjut dan ketidakstabilan rantai pasokan energi global meningkat karena krisis Rusia-Ukraina dan faktor lainnya, peran kebijakan energi dalam mencapai tujuan ketahanan energi dan netralitas karbon menjadi lebih penting dari sebelumnya," kata Kementerian Industri Korsel dalam sebuah penyataan, Selasa (5/7/2022).

Baca Juga

Presiden baru Korsel Yoon Suk Yeol telah menolak gagasan penghapusan energi nuklir secara bertahap dan menjadikannya sebagai janji utama kampanyenya untuk meningkatkan investasi di industri ini dan menghidupkan kembali status negara itu sebagai pengekspor utama reaktor aman. 

Titik balik ekonomi terbesar keempat di Asia itu menuju kebijakan energi pro nuklir terjadi setelah Yoon memenangi pemilihan presiden Maret lalu dengan selisih terkecil dalam sejarah demokrasi Korsel. Sambil meningkatkan peran energi nuklir, negara tersebut berencana untuk mengurangi ketergantungannya pada impor bahan bakar fosil dari 81,8 persen pada 2021 menjadi sekitar 60 persen pada 2030, kata kementerian tersebut.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement