Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Islam Berkemajuan, Cara Muhammadiyah Tangkal Radikal Kanan dan Kiri

Senin 04 Jul 2022 23:39 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Kader-kader Muhammadiyah (ilustrasi). Muhammadiyah akan menggelar Muktamar ke-48 pada 2022 ini

Kader-kader Muhammadiyah (ilustrasi). Muhammadiyah akan menggelar Muktamar ke-48 pada 2022 ini

Foto: ANTARA
Muhammadiyah akan menggelar Muktamar ke-48 pada 2022 ini

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Muhammadiyah perlu terus meningkatkan kekuatannya di berbagai sektor sebagaimana yang telah diperkuat oleh seluruh jaringannya. 

Hal ini disampaikan  pengamat politik Islam dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menyikapi akan diselenggarakannya Muktamar ke-48 Muhammadiyah tahun ini. 

Baca Juga

Khoirul mengungkapkan, Islam berkemajuan yang dibawa Muhammadiyah diejawantahkan melalui penguatan di berbagai bidang. Di antaranya pada sektor pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial, dan lainnya. 

"Tentu ini bisa terus ditingkatkan. Dalam konteks Islam berkemajuan, adalah bagaimana mengaplikasikan spirit itu dalam mentransformasikan Indonesia menjadi negara berbasis umat Islam dengan karakter yang lebih progresif," tutur dia kepada Republika.co.id, Senin (4/7/2022). 

Selain itu, Khoirul mengatakan, Islam berkemajuan tersebut juga meliputi cara berpikir dan konteks peradaban, sosial maupun pemerintahan. 

Menurutnya, Islam berkemajuan bisa menjadi jangkar bagi moderatisme Islam di Indonesia supaya tidak terjebak benturan ideologis.

"Baik itu yang dimotori oleh kelompok kanan konservatif Islam, maupun kelompok kiri yang istilah kita hipernasionalis, yang seolah-olah kalau tidak bersama mereka itu tidak nasionalis, anti-Pancasila," paparnya. 

Dalam kondisi demikian, Khoirul menuturkan, Muhammadiyah dengan Islam berkemajuannya memiliki peran sentral di ranah tersebut untuk menjembatani antarelemen yang semakin tidak produktif di Indoneesia saat ini. Dia juga menyampaikan, Muktamar Muhammadiyah kali ini harus menjadi media yang bisa memfasilitasi proses demokrasi yang lebih matang.

"Karena bagaimana pun juga, kepemimpinan yang dipilih oleh Muhammadiyah akan dihadapkan pada satu dinamika politik yang cukup besar di momentum 2024. Dalam konteks kerja kebangsaan, ada urgensi di situ," ujarnya. 

Dengan begitu, Muhammadiyah sebagai ormas Islam harus bisa peran sebagai penjaga modernisme Islam dalam konteks kebangsaan. Ini supaya benturan di antara elemen yang menguatkan narasi kanan dan kiri itu tidak berkelanjutan.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA