Selasa 05 Jul 2022 03:31 WIB

Nombe Nombe, Kanguru Raksasa yang Jelajahi Papua Nugini 50.000 Tahun Lalu 

Nombe Nombe berasl dari genus yang berbeda dengan kanguru Australia.

Rep: mgrol136/ Red: Dwi Murdaningsih
Kanguru pohon banyak hidup di Papua Nugini dan Australia. (Photo: ABC Licensed, National Zoo and Aquarium, Ann Eldridge)
Kanguru pohon banyak hidup di Papua Nugini dan Australia. (Photo: ABC Licensed, National Zoo and Aquarium, Ann Eldridge)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Menurut sebuah penelitian baru-baru ini, ada seekor kanguru besar yang aneh berkeliaran di Papua Nugini 50.000 tahun yang lalu. Spesies yang dijuluki sebagai Nombe Nombe oleh peneliti Flinders University, memiliki tubuh yang kokoh dan berotot.

Para ilmuwan menentukan bahwa spesies baru kemungkinan besar merupakan anggota dari genus berbeda yang hanya ada di Papua Nugini. Spesies ini mungkin tidak terkait erat dengan variasi Australia.

Baca Juga

“Kami menganggap hewan-hewan ini unik dari Australia, tetapi mereka memiliki kehidupan lain yang menarik di Papua,” kata Isaac Kerr, seorang penulis studi tersebut.

Kanguru besar awalnya dideskripsikan pada tahun 1983 dan telah diidentifikasi oleh fosil yang berumur antara 20.000 dan 50.000 tahun yang lalu. Fosil-fosil tersebut ditemukan di Nombe Rockshelter di Provinsi Chimbu, yang sebelumnya tertutup vegetasi lebat. 

Nombe memiliki tulang rahang yang kuat dan otot pengunyah yang kuat. Kemungkinan hewan ini memakan daun keras dari pohon dan semak belukar.

“Fauna Papua Nugini sangat menarik, tetapi sangat sedikit orang Australia yang memiliki banyak gagasan tentang apa yang sebenarnya ada di sana,” kata Kerr.

Rahang fosil Nombe diperiksa oleh para peneliti menggunakan pencitraan 3D. Menurut temuan mereka, spesies tersebut diturunkan dari kanguru prasejarah yang mengembara ke New Guinea sekitar 5-8 juta tahun yang lalu.

Karena permukaan laut yang lebih rendah pada periode itu, sebuah jembatan darat menghubungkan daratan Australia dan pulau-pulau New Guinea. Mamalia Australia awal mampu menyeberangi jembatan ke New Guinea sebelum terendam dan berubah menjadi Selat Torres seperti sekarang ini.

Menurut para ahli, hewan-hewan di sana berkembang sesuai dengan lingkungan tropis baru mereka. Sementara beberapa penelitian tentang megafauna yang punah ini dilakukan pada 1960-an, 1970-an, dan 1980-an, tidak ada penggalian yang dilakukan di sana sejak awal 1990-an. Para peneliti saat ini bekerja untuk penelitian lebih lanjut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement