Tuesday, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Tuesday, 12 Rabiul Awwal 1440 / 20 November 2018

Lahung, Durian Khas Hutan Kalimantan, Mulai Punah?

Jumat 25 Nov 2011 09:33 WIB

Red: Siwi Tri Puji B

Buah lahung hasil jepretan blogger hasanzainuddin.wordpress.com

Buah lahung hasil jepretan blogger hasanzainuddin.wordpress.com

Foto: Courtesy of hasanzainuddin.wordpress.com

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN - Buah lahung sejenis durian tetapi kulit dengan duri panjang dan lancip warna merah kehitaman, merupakan buah khas pedalaman Kalimantan kini susah susah sekali ditemukan. "Walau sekarang musim buah, tetapi kami tak ada menemukan buahlahung," kata pedagang buah rimba Kalimantan, Supiani di bilangan Sungai Andai Banjarmasin, Jumat.

Supiani sendiri menjajakan buah rimba Kalimantan, seperti ramania, rambai, binjai, hambawang, kalangkala, kasturi, durian, rambutan, dan tiwadak.

Menurut Supiani beberapa tahun silam buah Lahung masih bisa ditemukan, tetapi sekarang hampir tak pernah terlihat lagi. "Memang banyak yang masih menanyakan buah itu untuk bernostalgia mencicipinya tetapi kami carikan hingga ke pedalaman Kabupaten Tabalong dan Balangan juga tidak ketemu," katanya.

Berdasarkan keterangan, buah lahung tidak seekonomis buah durian kebanyakan, karena kurang laku di pasaran walau rasanya relatif cukup enak tetapi isi buah sedikit sekali, lebih banyak kulit buah ketimbang isi buah sehingga kurang diminati.

Akibat kurang ekonomis maka buah itu hampir tak ada seorangpun yang ingin membudidayakannya, apalagi jenis tanaman ini mungkin berusia ratusan tahun baru berproduksi.

Pohon buah ini biasanya lebih besar dan tinggi dibandingkan dengan pohon durian kebanyakan, dan memiliki garis tengah yang besar, akibat besar maka banyak yang memanfaatkan pohon ini bukan untuk mengambil buahnya justru menebang untuk mengambil kayunya.

Apalagi belakangan kayu hutan mulai susah dicari sehingga banyak warga menebang pohon ini untuk dibuat papan dan kayu olahan lainnya karena jenis kayu ini cukup berkualitas untuk olahan kayu.

Kalimantan memang kaya akan buah rimba, dan belakangan buah rimba itu mulai bermunculan ke pasaran di Kota Banjarmasin. Buah rimba Kalsel itu, seperti mundar, kalangkala, kapul, ramania,mentega,tiwadak,kasturi,katapi suntul, hambawang, asam pulasan (putar), binjai, rambai, manggis, dan beberapa jenis lagi yang lain.

Harga buah rimba Seperti buah hambawang dijual hanya Rp 1.000 per biji, dibandingkan dengan mangga yang seharga Rp 2.000 per biji, maka buah rimba sangat murah. Begitu juga dengan buah rimba kapul Rp 2.000 per ikat (satu ikat 10 biji), rambai Rp 2.000 per ikat, sementara buah manggis hutan seharga Rp 1.000 per biji atau Rp 10.000 per ikat, dengan isi 10 biji.

Selain buah rimba kini mulai membanjir jenis buah-buahan budidaya seperti durian, rambutan, langsat, mangga, salak, pisang, dan beberapa jenis lagi.

Menurut Ny Hasnah penjual buah rimba, jenis buah rimba itu baru sebagian yang berbuah sementara beberapa jenis lainnya masih belum panen. Buah jenis ini didatangkan dari kawasan Hulu Sungai atau Banua Enam (enam kabupaten Utara Kalsel) serta dari Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Sementara harga buah-buahan lainnya, hasil pemantauan seperti durian antara Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per biji, tiwadak (cempedak) antara Rp 10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, salak Rp 7.000 per kilogram, semangka Rp1500 per kg, mangga gadung Rp 10.000 per kg, pisang mahuli Rp 5.000 sisir.

Keunggulan buah rimba tersebut di samping memiliki rasanya yang khas dan enak, juga memiliki tampilan yang menarik. Hampir semua jenis buah-buahan rimba Kalimantan tersebut juga mengandung nilai gizi yang cukup tinggi, dan ada beberapa buah-buahan rimba ini dikonsumsi sebagai obat tradisional.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA