Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Risiko yang Dihadapi Tim Dokter Mata di Pedalaman Papua

Ahad 20 Nov 2011 10:59 WIB

Red: Chairul Akhmad

dr Yanuar Ali, SpM (tengah) di antara para pasiennya.

dr Yanuar Ali, SpM (tengah) di antara para pasiennya.

Foto: Republika/Chairul Akhmad

REPUBLIKA.CO.ID, PUNCAK JAYA – Tim pengobatan program operasi katarak ICRC dan PMI terdiri dari dokter mata yang didatangkan dari RS Dian Harapan, Jayapura. Tim ini diketuai oleh dr Yanuar Ali, SpM. RS Dian Harapan adalah sebuah rumah sakit swasta yang berlokasi di Waena, Jayapura.

Rumah Sakit ini dikenal sebagai salah satu RS yang memiliki program pelayanan pengobatan mata gratis ke daerah-daerah terpencil di Papua. Biasanya, tim outreach (penjangkauan) dari RS Dian Harapan terdiri dari satu dokter mata, tiga orang perawat, dan dua orang petugas refraksi.

"Semua personel Bagian Mata RS Dian Harapan harus siap diterjunkan ke daerah-daerah pedalaman seperti Puncak Jaya. Mereka diterbangkan menggunakan pesawat perintis yang kerap menghadapi resiko," kata Yanuar Ali.

Salah satu resikonya, lanjut Yanuar, adalah pesawat jatuh. Namun, tim Bagian Mata RS Dian Harapan harus mengambil resiko itu. "Karena kita terlibat dalam misi kemanusiaan, yang mau tak mau harus menempuh resiko itu," tegasnya.

Hampir seluruh wilayah Papua telah dijelajahi oleh Yanuar dan timnya dalam misi penyebaran dan pemerataan kesehatan bagi warga Papua. Mulai dari Timika, Wamena, Asmat, Merauke, hingga Puncak Jaya. Biasanya, mereka bekerjasama dengan RS atau Balai Pengobatan setempat. Bagian Mata RS Dian Harapan pertama kali terjun ke Puncak Jaya pada 2004 lalu.

Karena sudah pengalaman beroperasi di daerah pantai dan pegunungan, Yanuar dapat menyimpulkan bahwa angka kebutaan karena katarak untuk wilayah pegunungan tengah Papua cukup tinggi. Melampaui angka kebutaan karena penyakit yang sama di di kawasan pantai.

Namun, Yanuar tak tahu persis mengapa orang-orang pegunungan lebih banyak menderita katarak dibandingkan dengan orang-orang pantai. "Belum ada survei atau peneletian untuk itu. Saya tak tahu persis apa penyebabnya," kata dia.

Orang-orang gunung, lanjut Yanuar, lebih berani dioperasi ketimbang orang-orang pantai. Menurut dia, kemungkinan orang-orang gunung ini telah mengenal operasi terlebih dahulu dibandingkan orang-orang pantai. Mereka mengenal operasi dari pendeta-pendeta atau misionaris.

"Bagi masyarakat tradisional, informasi dari mulut ke mulut tentang khasiat sesuatu sangat berdampak bagi mereka. Mereka lebih percaya jika melihat langsung hasil operasi dari orang yang pernah menjalankannya," kata Yanuar.

Oleh sebab itu, RS Dian Harapan menetapkan standar tinggi dalam operasi (mata). Mereka tidak melihat berapa banyak pasien yang dioperasi, tapi seberapa bagus hasilnya. "Outcome (hasil operasi) atau kualitas operasi itu lebih penting bagi kami ketimbang banyaknya jumlah pasien," tegas Yanuar.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA