Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Menanti Petani Berdasi

Ahad 03 Jul 2022 19:21 WIB

Red: Budi Raharjo

Gubernur Sumbar Mahyeldi ikut panen raya di Talawi, Kota Sawahlunto, Selasa (30/3).

Gubernur Sumbar Mahyeldi ikut panen raya di Talawi, Kota Sawahlunto, Selasa (30/3).

Foto: dok. Humas Pemprov Sumbar
Diakui, petani yang ada sekarang usianya sudah tua-tua. Petani muda justru sedikit.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Mahyeldi Ansharullah SP, Gubernur Sumatera Barat

Sewaktu melakukan kunjungan ke suatu daerah, saya singgah di sebuah kedai. Sayup-sayup saya mendengar lantunan lagu milik Koes Plus. Lagu berjudul "Kolam Susu" terdengar dari sebuah handphone yang terletak di atas meja pemilik kedai. 

"Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman..."

Penggalan lirik lagu tersebut membuat pikiran saya kembali melayang kepada para petani yang kini tengah hidup susah. Padahal, selama alam terkembang, para petani yang menghidupi makhluk di atas bumi ini. Bekerja dari pagi buta hingga matahari terbenam.

Di Sumatera Barat jumlah petani mencapai ratusan ribu jiwa. BPS mencatat, jumlah petani di Sumbar pada tahun 2018 sebanyak 872.948 orang. Angka tersebut dipastikan meningkat, terlebih di masa pandemi Covid-19 lalu, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja. Tentunya ada yang beralih profesi menjadi petani dan lainnya.

Diakui, petani yang ada sekarang usianya sudah tua-tua. Petani muda justru sedikit. Padahal, jumlah lulusan sarjana pertanian terus bertambah setiap tahunnya. 

Kenapa banyak yang tua-tua? Karena anak muda lebih banyak memilih menggeluti dunia usaha. Uang mudah didapat, hanya sekejap. Berbeda dengan kehidupan petani. Harus menunggu panen dulu. Senyum petani akan mengembang ketika panen tiba. 

Susahnya menjadi petani tidak saja harus menunggu panen baru kemudian menikmati hasil. Akan tetapi, sebelum bertanam, masalah sudah mulai dirasakan. Seperti mahal dan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi, sulitnya mendapatkan bibit, kesulitan permodalan, dan lainnya. 

Nilai tukar petani (NTP) pada tahun 2020 yang merupakan salah satu indikator kesejahteraan petani hanya 101,65 poin, naik tipis 0,74 persen dibanding 2019. Sementara untuk 2021, rata-rata NTP 107,59 poin yang didongkrak oleh NTP subsektor perkebunan yang selalu di atas 110 poin.

Subsektor lainnya rata-rata masih di bawah 100 poin seperti subsektor pangan 98.05 poin, subsektor peternakan 99,12 poin dan subsektor hortikultura 101,38 poin. Angka tersebut menjelaskan bahwa  petani masih merugi, pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan dari hasil tani.

Semasa masih menjadi Wali Kota Padang dulu, saya memang termasuk lebih perhatian kepada pertanian. Ketika itu saya mengajak anggota DPR dapil Sumbar untuk mau menggelontorkan bantuan bagi petani di Padang. Jadilah, bantuan berupa hand tractor, serta peralatan pertanian lainnya digelontorkan untuk Padang. Digunakan para petani Padang. 

Salah satu tujuan saya mengajak anggota DPR untuk memberi bantuan ketika itu agar petani mengetahui bahwa menjadi petani tidak harus memiliki biaya yang besar. Sebab, pemerintah juga memberi perhatian lebih kepada petani. Apa yang diinginkan bisa didapat sesuai mekanisme dan peruntukannya. 

Kemudian tentunya saya juga secara tidak langsung mengajak anak muda untuk ikut menggeluti dunia pertanian. Karena petani saat ini tidak sama dengan petani tempo doeloe. Kini, dalam mengembangkan pertanian, perlu pemikiran dan terobosan baru dari anak muda.

Teknologi yang sudah menjadi keharusan dewasa ini, dapat menunjang sektor pertanian. Terutama dalam hal produksi serta penjualan. Hasil pertanian akan dapat dipasarkan melalui market place tanpa harus melalui toke. Serta pengenalan produk melalui platform digital serta media sosial. 

Sebab itulah saya menginginkan para petani berdasi di Sumatera Barat. Petani yang punya intelektualitas. Terlebih, sebentar lagi Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Dimana populasi penduduk Indonesia akan didominasi anak muda.

Tentunya harapan kita anak muda tersebut adalah anak muda yang berjiwa petani. Memanfaatkan setiap jengkal lahan yang kosong dengan menanam bibit yang dapat menghidupi dirinya sendiri serta orang banyak. 

Tentunya kita semua berharap, Perguruan Tinggi yang ada untuk dapat merekrut banyak mahasiswa yang benar-benar ingin menggeluti pertanian. Membangun modernisasi pertanian, sehingga masalah biaya produksi, produktifitas, maupun kemiskinan di kalangan petani dapat terjawab. Selain itu, dengan modernisasi, usaha tani dinilai menjadi lebih efisien.

Pemborosan biaya dalam faktor-faktor produksi bisa ditekan seminimal mungkin. Demikian juga dengan produksi, modernisasi pertanian akan meningkatkan  produktifitas hasil pertanian. Pada akhirnya,  dengan biaya usaha yang lebih sedikit, produksi yang lebih banyak, pendapatan petani akan bertambah dan kemiskinan petani bisa teratasi. 

Harapan kita tentunya, anak muda petani lulusan pertanian nan berdasi akan dapat menguasai lahan pertanian dengan baik. Mereka tidak lagi harus berada di persawahan dengan baju penuh lumpur. Atau duduk di kebun sambil menunggui dan membasmi hama. Kita ingin melihat petani yang berdasi. Tak lagi duduk di pematang sawah, tetapi di villa tengah sawah. Sambil menelepon dan berselancar di dunia maya, menjajakan produk pertaniannya. Semoga saja.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA