Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Kuota Pertalite untuk Jayawijaya Dikurangi

Senin 04 Jul 2022 00:14 WIB

Red: Nidia Zuraya

Petugas SPBU melayani masyarakat dengan mengisi BBM jenis Pertalite (ilustrasi). Kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk dua Agen Penyalur Premium dan Minyak Solar (APMS) di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua dikurangi oleh Pertamina sebanyak 50 hingga 60 kiloliter.

Petugas SPBU melayani masyarakat dengan mengisi BBM jenis Pertalite (ilustrasi). Kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk dua Agen Penyalur Premium dan Minyak Solar (APMS) di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua dikurangi oleh Pertamina sebanyak 50 hingga 60 kiloliter.

Foto: Antara/Olha Mulalinda
Kuota Pertalite untuk wilayah Jayawijaya sebelumnya 360 kiloliter

REPUBLIKA.CO.ID, WAMENA -- Kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk dua Agen Penyalur Premium dan Minyak Solar (APMS) di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua dikurangi oleh Pertamina sebanyak 50 hingga 60 kiloliter. Penanggung jawab APMS Anwarudin dan Lasminingsih, Yono di Wamena, Ahad (3/7/2022), mengatakan pengurangan ini mengakibatkan masyarakat Jayawijaya menduga ada pembatasan yang diberlakukan pihak APMS dalam pembelian Pertalite.

"Sebenarnya kami tidak pernah melakukan pembatasan. Hanya saja pendistribusian harus dilakukan seimbang," katanya.

Baca Juga

Ia mengatakan kuota Pertalite di APMS Anwarudin sebelumnya adalah 325 kilo liter, namun ada pengurangan 50 kiloliter sehingga yang diterima hanya 272 kiloliter."Sedangkan untuk solar, kuota tetap 90 Kl," katanya.

Sementara untuk APMS Lasminingsih, kuota Pertalite sebelumnya 360 kiloliter, dikurangi 60 kiloliter sehingga menjadi 300 kiloliter. "Solar alokasinya tetap 120 kl," katanya.

Ia memastikan terjadi pengurangan pertalite namun pihak Pertamina menambah BBM jenis Pertamax dan Dextalite."Di APMS Anwarudin, untuk Pertamax ada tambahan 65 kl dan Dextalite 110 kl. Kalau di Lasminingsih, produk Pertamax ada tambahan 50 kl dan Dextalite 100 kl. Ini harus didistribusikan semua sehingga memang harus seimbang," katanya.

Yono menjelaskan bahwa banyak warga memilih Pertalite dan solar ketimbang Pertamax dan Dextalite, sebab selisih harganya cukup besar."Contoh Pertalite ke Pertamax, itu punya selisih harga Rp 5.100, sedangkan solar ke Dextalite selisih harganya Rp 8.100 per liter," katanya.

 

sumber : Antara
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA