Ahad 03 Jul 2022 04:19 WIB

Umat Islam dan Media: Melihat ‘Deus Absconditus’ pada Kasus Holywings

Umat Islam sadar dan waspada ada tangan tak terlihat dalam kasus Holywings.

Spanduk peringatan penutupan tempat usaha terpasang di pintu masuk Bar dan Restoran Holiwings Yogyakarta, Kamis (30/6/2022). Pemkab Sleman mengikuti wilayah lain ikut menutup outlet Holiwiy. Ada beberapa pertimbangan penutupan outlet Holywings Jogja tersebut, yaitu operasional usaha Bar dan Resto Holywings belum sesuai dengan ketentuan Perda maupun Perkada Kabupaten Sleman. Selanjutnya, usaha tempat huburan malam tersebut juga dinilai telah menimbulkan kegaduhan dan mengganggu ketentraman masyarakat serta ketertiban umum.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Spanduk peringatan penutupan tempat usaha terpasang di pintu masuk Bar dan Restoran Holiwings Yogyakarta, Kamis (30/6/2022). Pemkab Sleman mengikuti wilayah lain ikut menutup outlet Holiwiy. Ada beberapa pertimbangan penutupan outlet Holywings Jogja tersebut, yaitu operasional usaha Bar dan Resto Holywings belum sesuai dengan ketentuan Perda maupun Perkada Kabupaten Sleman. Selanjutnya, usaha tempat huburan malam tersebut juga dinilai telah menimbulkan kegaduhan dan mengganggu ketentraman masyarakat serta ketertiban umum.

REPUBLIKA: Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika dan Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Dalam sepekan terakhir di bulan Juli 2022 ada berita menyentak. Tiba-tiba meluncur penawaran untuk minum gratis minuman beralkohol di jaringan pub elite di ibu kota yang berada di bilangan distrik CBD Jakarta: Holywings. Melalui media Instagram mereka menawarkan minuman gratis ‘gin tonik’ kepada pengunjung yang menyandang nama Muhammad dan Maria.

Sontak saja minuman ini berbuah kehebohan di media sosial. Sadar memicu kehebohan langsung pihak Holywings menghapus iklan itu. Sayang, penawaran itu keburu di-chapter (disalin) para pengguna media sosial. Imbasnya isu itu segera menjadi liar. Tak lama kemudian, sehari berselang sudah muncul demontrasi dari umat Islam dan ormas. Mereka tak terima akan penyandingan kedua ‘nama suci’ itu dengan minuman beralkohol (khmar). Ustadz kondang Das’ad Latif, misalnya, muncul di tayangan Youtube sembari menangis haru ketika mengomentari itu. Pemuka agama Islam dan Katolik turut protes. Warga Nasrani di Manado juga memprotesnya sembari mendatangi bar Holywings yang ada di kotanya. 

Media tentu saja melahap soal ini. Kasus promosi minuman keras Holywings jadi sumber berita dengan  tak lupa sebagai cara untuk melakukan spasiliasasi atau menangguk uang (acent) hingga membuat framing. Bahkan tak luput akhirnya selain berlabuh menjadi soal pidana, masalah ini berubah juga menyerempt soal lain, bahkan sudah menjadi framing media dalam isu politik. 

Media internasional dari berbagai penjuru dunia baik itu Eropa, Amerika Serikat, India, Arab, Turki dan lainnya juga menulis kehebohan ini. Bila disimpulkan secara sederhana, media internasional heran mengapa soal-soal ‘Islamophobia’ seperti itu muncul di Indonesia yang mereka sebut dengan imajinasi dengan sebutan sebagai ‘negara Muslim’ (negara terbesar di dunia yang penduduknya beragama Islam).

Uniknya, keterkejutan mereka hampir bersamaan dengan munculnya berbagai aksi kekerasan kepada Muslim India yang juga menghebohkan dunia. Bahkan yang terakhir kasus ini menjadi heboh luar biasa karena di sebuah kota di India ada dua orang dipenggal kepalanya karena selama ini dituding bersikap ‘anti Islam’. Isu pun sama dengan di Jakarta, penghinaan kepada sosok Nabi Muhammad SAW.

Selain itu pada pekan-pekan yang sama, majalah ekonomi terkemuka dunia yang terbit di Inggris The Economist juga membuat tulisan menyengat mengenai Indonesia. Majalah yang menjadi bacaan wajib pelaku bisnis dunia menerbitkan tulisan bertajuk: 'Indonesia's campaign against Islamists is a ploy to silence critics' (Kampanye Indonesia melawan Islamis adalah taktik untuk membungkam para kritikus) yang terbit pada 23 Juni 2022. Tulisan dimasukkan dalam kategori kajian mengenai persoalan Asia dengan tajuk: Illusory extremists ( Ekstremis ilusi).

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement