Tuesday, 11 Muharram 1444 / 09 August 2022

Mulai 1 Juli 2022 Diperingati Sebagai Hari Bronkiektasis Sedunia

Sabtu 02 Jul 2022 03:25 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda

Paru-paru.Ilustrasi. Mulai tahun ini maka setiap 1 Juli diperingati sebagai Hari Bronkiektasis sedunia.

Paru-paru.Ilustrasi. Mulai tahun ini maka setiap 1 Juli diperingati sebagai Hari Bronkiektasis sedunia.

Foto: ajronline.org
Paru adalah organ tubuh penting karena peran utamanya dalam bernapas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dua tahun terakhir, kesehatan paru menjadi topik hangat seiring dengan pandemi Covid-19. Virus ini dapat mengganggu sistem pernafasan dengan tingkat keparahan yang berbeda pada penderitanya.

Ketua Majelis Kehormatan, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan paru adalah organ tubuh penting karena peran utamanya dalam bernapas. Ada berbagai penyakit yang dapat menyerang paru, mulai dari infeksi seperti Covid-19, tuberkulosis, pneumonia dan lainnya.  

Baca Juga

Salah satu diantaranya penyakit "Bronkiektasis" berupa saluran napas lebar berlebihan sehingga ada penumpukan lendir (mukus) dengan segala akibatnya, mulai dari infeksi berulang sampai ke gangguan fungsi paru dan bernafas serta disability jangka panjang dan bahkan mungkin kematian. Jelasnya, amat memberi beban pada pasien dan keluarganya.

"Memang penyakit ini belum banyak dikenal luas. Karena itu mulai tahun ini maka setiap 1 Juli diperingati sebagai Hari Bronkiektasis sedunia, jadi hari ini adalah tonggak sejarah penting. Peringatan oleh organisasi kesehatan paru di berbagai negara (termasuk Perhimpunan Dokter Paru Indonesia - PDPI) dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran kita tentang penyakit ini, dan merupakan advokasi ke penentu kebijakan publik (Kementerian Kesehatan dll.) agar memberi perhatian pada bronkiektasis, selain penyakit paru lainnya," kata Tjandra, Jumat (1/7/2022).

Tjandra mengatakan, memang belum ada data epidemiologi yang pasti tentang jumlah pasien Bronkiektasis. Namun, diperkirakan ada ratusan ribu kasus di dunia dan ribuan kasus di negara kita, dan diperkirakan angkanya terus meningkat.

"Gejala bronkiektasis antara lain batuk berdahak kental, sesak nafas, nyeri dada, sering radang paru, badan lemah, demam tak jelas penyebabnya dan penurunan berat badan," terangnya.

Tjandra melanjutkan, diagnosis penyakit ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan "high-resolution computed tomography (CT) scan" paru. Saat ini, Bronkiektasis ditangani dengan dua cara.

"Pertama, membersihkan tumpukan lendir di saluran napas (bronkus) di dalam paru, atau airway clearance, antara lain dengan semacam fisioterapi, obat dan alat tertentu, aerobik dan minum air yang banyak sehingga lendir di paru jadi lebih encer sehingga lebih mudah dibatukkan keluar," ungkapnya.

Cara kedua adalah pencegahan dan pengobatan infeksi paru. Untuk itu perlu di identifikasi apa penyebab infeksi, bisa bakteri, jamur, mikobakteria dan lainnya dan kemudian diberi obat yang sesuai.

 

"Saat ini sekitar 40 persen kasus bronkiektasis di dunia belum diketahui penyebabnya secara pasti, dan karena itu penelitian harus terus digalakkan, termasuk di negara kita," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA