Wednesday, 19 Muharram 1444 / 17 August 2022

BPS: Kenaikan Harga Pangan Impor Belum Berdampak Banyak ke Inflasi Indonesia

Jumat 01 Jul 2022 11:22 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Seorang pekerja mengeringkan kacang kedelai impor (ilustrasi). Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan kenaikan harga pangan global telah berdampak pada kenaikan harga sejumlah pangan yang berbahan baku impor. Namun, sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap laju inflasi.

Seorang pekerja mengeringkan kacang kedelai impor (ilustrasi). Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan kenaikan harga pangan global telah berdampak pada kenaikan harga sejumlah pangan yang berbahan baku impor. Namun, sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap laju inflasi.

Foto: Antara/Arif Firmansyah
Komoditas pangan impor yang sering dikonsumsi yakni tepung terigu, gula dan kedelai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan kenaikan harga pangan global telah berdampak pada kenaikan harga sejumlah pangan yang berbahan baku impor. Namun, sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap laju inflasi.

Terdapat tiga komoditas pangan impor yang cukup dominan dikonsumsi masyarakat, di antaranya gandum sebagai bahan baku tepung terigu, gula, serta kedelai yang digunakan membuat tahu tempe.

Baca Juga

"Meskipun harga tepung terigu, gula, dan tempe mengalami kenaikan, transmisi (kepada inflasi) belum terasa. Andil inflasinya terhadap inflasi di Juni masih tergolong rendah," kata Kepala BPS, Margo Yuwono, dalam konferensi pers, Jumat (1/7/2022).

BPS mencatat, rata-rata harga tepung terigu selama Juni naik menjadi seebsar Rp 12 ribu per kg. Andil terhadap inflasi bulanan di Juni hanya 0,0009 persen.

Adapun, untuk komoditas gula harga stabil di kisaran Rp 14.370 per kg. Gula justru menyumbang deflasi minus 0,001 persen.

Begitu pula untuk tempe, justru mulai mengalami penurunan menjadi rata-rata Rp 12.270 per kg. Akibat tren harga yang melandai, tempe bahkan menyumbang deflasi minus 0,003 persen.

Sebagai informasi, sejumlah negara pada bulan lalu melakukan restriksi berupa kewajiban pajak ekspor bahkan larangan terhadap komoditas pangannya.

Sepanjang Juni, sebanyak delapan negara melakukan restriksi terhadap ekspor gandum. Harga gandum selama Juni lalu mencapai 522,3 per ton, naik 5,45 persen dari bulan sebelumnya.

Sementara itu, pada komoditas gula, juga terdapat delapan negara yang melakukan restriksi. Namun harga gula pada Juni mengalami penurunan 1,07 persen dari Mei menjadi 43 dolar per kilogram.

Adapun kedelai hanya dua negara yang melakukan langkah restriksi. Harga gula pada Juni naik tipis 0,46 persen menjadi 724,1 dolar AS per ton.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA