Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Ikhtiar Pedagang Hewan Qurban

Kamis 30 Jun 2022 04:03 WIB

Red: Joko Sadewo

Dokter hewan memeriksa mulut sapi sebelum menyuntikkan dosis vaksin mulut dan kuku di sebuah peternakan di Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 29 Juni 2022. Indonesia mengintensifkan pemeriksaan ternak dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran kaki Penyakit mulut dan mulut (PMK), melakukan tindakan pencegahan seperti sterilisasi kandang dan karantina sapi yang menunjukkan gejala virus.

Dokter hewan memeriksa mulut sapi sebelum menyuntikkan dosis vaksin mulut dan kuku di sebuah peternakan di Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 29 Juni 2022. Indonesia mengintensifkan pemeriksaan ternak dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran kaki Penyakit mulut dan mulut (PMK), melakukan tindakan pencegahan seperti sterilisasi kandang dan karantina sapi yang menunjukkan gejala virus.

Foto: EPA-EFE/BAGUS INDAHONO
Beberapa pedagang lalu berupaya membuat ramuan untuk ternak mereka.

Oleh : Andi Nur Aminah, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Hari Raya Idul Adha, atau kerap juga disebutkan Hari Raya Qurban tinggal menghitung hari. Beberapa titik tertentu di sejumlah kota, kini bermunculan pasar kaget hewan-hewan qurban. Hewan qurban ini menanti dipinang oleh calon pembeli yang akan melaksanakan qurban, baik usai pelaksaan saat Idul Adha maupun tiga hari tasrik kemudian.

Namun Idul Adha tahun ini, sepertinya terasa berbeda, terutama bagi kalangan pedagang hewan qurban. Dua bulan terakhir, kemunculan penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi sorotan. Awalnya memang hanya terdengar di satu daerah. Tapi lama kelamaan virus ini menyebar dengan cepat dan menulari ternak lainnya di beberapa wilayah.

Penyebaran PMK pun kian mengkhawatirkan saat Idul Adha kian dekat. Salah satu wilayah yang ternaknya banyak terpapar virus PMK yakni Jawa Barat. Wilayah Kabupaten Bandung saja misalnya, sebanyak 2.658 hewan ternak di daerah itu dinyatakan suspect penyakit mulut dan kuku (PMK) sepanjang Mei hingga Juni. Dari jumlah itu, sebanyak 60 ekor di antaranya mati.

Panik nggak tuh? Paniklah, masak nggak? Membayangkan ternak yang dipelihara, dijaga, dirawat hingga besar dan disiapkan untuk jadi hewan qurban, tiba-tiba terserang virus PMK. Ada yang mendadak tak nafsu makan, air liur berlebihan, luka pada kuku dan kukunya lepas-lepas, lesu dan lebih sering berbaring, pada sapi perah produksi susunya menurun drastis dan banyak lagi ciri-ciri hewan sedang terpapar PMK.

Virus PMK menyerang semua hewan berkuku belah/genap seperti sapi, kerbau, domba, kambing, rusa, unta. Penularannya memang sangat cepat. Tapi tingkat kematian hanya satu hingga lima persen. Sehingga jika ditemukan ternak terlihat lemah, lesu, kaki pincang, air liur berlebihan, tidak mau makan, dan mulut melepuh segera hubungi petugas.

Meski beda subjek, dan kondisi, wabah virus PMK yang menyerang hewan ternak, disikapi hampir sama dengan saat virus Covid-19 mewabah. Virus, menyerang kekebalan tubuh. Karena itu, kondisi tubuhlah sebetulnya yang perlu dijaga agar bisa tetap fit dan bertahan menghadapi serangan virus.

Berbagai ikhtiar pun diupayakan agar ternak-ternak tersebut tetap sehat. Para peternak atau penjual hewan ternak tentu sangat berharap berkah Idul Adha tetap bisa dirasakan.

Beberapa pedagang lalu berupaya membuat ramuan untuk ternak mereka. Nyaris sama ketika orang beramai-ramai mengonsumsi ramuan herbal yang diyakini bisa untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Ada penjual ternak yang rutin memberikan ramuan tradisional untuk sapi-sapinya. Sapi diberi makan telur bebek, madu, dan larutan vitamin. Bahkan sehari bisa dua butir telur yang diberikan, biar daya tahan tubuh sapinya kuat.

Langkah lain dengan berupaya menjaga lapak ternak tetap dalam kondisi bersih dan meminimalkan potensi penularan penyakit pada ternak. “Kalau ada yang datang, saya tanya dulu, takut dari kandang (ternak) lain bawa penyakit,” ujar pedagang yang menawarkan ternak asal Tasikmalaya itu.

Di lapak penjualan ternak lainnya, malah ada yang memasang spanduk yang bertuliskan imbauan agar calon pembeli agar tidak memegang hewan. Semua ikhtiar tersebut sebagai upaya pencegahan penularan penyakit. Apalagi virus PMK dapat menyebar pada hewan melalui perantara manusia.

Tentu saja, ikhtiar tersebut dilakukan dengan harapan kondisi ternak bisa terus terjaga dengan baik, sehingga bisa terjual. 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA