Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Efisiensi Energi untuk Industri Berkelanjutan dan Tanpa Karbon

Rabu 29 Jun 2022 23:47 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Staf Ahli Menteri ESDM bidang Perencanaan Strategis sekaligus sebagai Chair Energy Transitions Working Group (ETWG) G20 Indonesia, Yudo Dwinanda Priaadi memberikan pemaparan saat menjadi narasumber dalam sosialisasi Presidensi G20 Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (22/4/2022). Sosialisasi Presidensi G20 Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri itu dihadiri masyarakat dan mahasiswa dengan mengangkat tema sektor prioritas transisi energi sebagai upaya memberikan pemahaman serta mengoptimalkan pelaksanaan Presidensi G20 di Indonesia.

Staf Ahli Menteri ESDM bidang Perencanaan Strategis sekaligus sebagai Chair Energy Transitions Working Group (ETWG) G20 Indonesia, Yudo Dwinanda Priaadi memberikan pemaparan saat menjadi narasumber dalam sosialisasi Presidensi G20 Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (22/4/2022). Sosialisasi Presidensi G20 Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri itu dihadiri masyarakat dan mahasiswa dengan mengangkat tema sektor prioritas transisi energi sebagai upaya memberikan pemahaman serta mengoptimalkan pelaksanaan Presidensi G20 di Indonesia.

Foto: ANTARA/Aji Styawan
Staf Ahli ESDM menyebut efisiensi energi kunci utama capai Paris Agreement

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melanjutkan Seri Webinar Energy Transitions Working Group (ETWG) Presidensi G20 Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan International Energy Agency (IEA) menyelenggarakan Webinar "Energy Efficiency: Scaling Up Strategies for Sustainable and Decarbonized Industries".

Pada webinar tersebut, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis selaku Chair Energy Transitions Working Group (ETWG) Yudo Dwinanda Priaadi menyampaikan alasan pentingnya negara-negara G20 meningkatkan efisiensi energi menuju industri yang berkelanjutan dan tanpa karbon.

"Pertama, efisiensi energi telah menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan Paris Agreement. Efisiensi energi pada sektor hilir diperkirakan berkontribusi hingga sekitar 40 persen dari total emisi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Namun demikian, usaha untuk memanfaatkan proyeksi ini mengalami kemunduran akibat dampak pandemi Covid-19 pada ekonomi global," ujar Yudo.

Alasan yang kedua, tambahnya, efisiensi energi juga menjadi kunci dalam membuat sektor industri lebih berkelanjutan dan efisien. UNIDO telah memperkirakan bahwa sekitar 70% emisi gas rumah kaca berasal hanya dari lima subsektor industri, yaitu industri semen, baja, alumunium, kimia, dan kilang minyak. Industri semen dan baja sendiri merupakan penghasil CO2 terbesar, di mana semen juga merupakan produk yang paling banyak dikonsumsi dunia nomor dua setelah air. Sektor-sektor itu juga dikenal sebagai sektor yang 'hard-to-abate', sulit untuk didekarbonisasi.

"Melihat data tersebut, kita sebagai komunitas internasional dan G20 memiliki perhatian yang sama atas bagaimana kita dapat mengurangi emisi pada sektor industri secara efektif, termasuk 'hard-to-abate', heavy industries," tuturnya.

Alasan selanjutnya, energi efisiensi akan memperkuat jalur G20 dan seluruh negeri menuju energi transisi yang adil, terjangkau, dan aman. Selain itu, efisiensi energi juga akan menjadi sektor yang menguntungkan, yang menyediakan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan.

"IEA World Energy Outlook memperkirakan bahwa efisiensi energi berpotensi untuk menyediakan sekitar 3 juta pekerjaan atau sekitar 10 persen dari seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan energi bersih, hingga tahun 2030. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengabaikan efisiensi energi dalam meningkatkan strategi dan tindakan untuk mencapai SDGs dan Net Zero Energy (NZE)," jelas Yudo.

Selain itu, energi efisiensi, sebagai salah satu indikator dalam Sustainable Development Goals (SDGs), hanya mencapai kemajuan yang terbatas. Intensitas energi hanya meningkat 0,5 persen pada 2020 dan 1,9 persen pada 2021. Angka ini jauh di bawah nilai yang disyaratkan untuk mencapai tujuan iklim global berkelanjutan yang telah ditetapkan pada Paris Agreement dan SDGS.

"Terakhir, energi efisiensi juga memiliki peran yang kritikal dalam mengurangi krisis energi dan memastikan pemulihan yang berkelanjutan. Hal tersebut karena efisiensi energi menjadi tindakan yang paling dapat ditindaklanjuti yang dapat diterapkan ketika menghadapi kesulitan dalam penurunan ekonomi global," pungkas Yudo.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA