Rabu 29 Jun 2022 19:15 WIB

China Desak AS Hentikan Semua Interaksi Resmi dengan Taiwan

China kembali mendesak AS untuk menghentikan semua interaksi resmi dengan Taiwan

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
Tentara Taiwan memberi hormat selama perayaan Hari Nasional di depan Gedung Kepresidenan di Taipei, Taiwan. Pemerintah China kembali mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan semua interaksi resmi dengan Taiwan. Beijing menegaskan, Taipei adalah bagian dari wilayahnya.
Foto: AP/AP/Chiang Ying-ying
Tentara Taiwan memberi hormat selama perayaan Hari Nasional di depan Gedung Kepresidenan di Taipei, Taiwan. Pemerintah China kembali mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan semua interaksi resmi dengan Taiwan. Beijing menegaskan, Taipei adalah bagian dari wilayahnya.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING – Pemerintah China kembali mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan semua interaksi resmi dengan Taiwan. Beijing menegaskan, Taipei adalah bagian dari wilayahnya.

“China dengan tegas menentang semua bentuk interaksi resmi antara Taiwan dan negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan China, termasuk negosiasi atau kesepakatan dengan implikasi kedaulatan dan sifat resmi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China Zhao Lijian dalam pengarahan pers, Selasa (28/6/2022), dikutip laman resmi Kemenlu China.

Dia menyerukan AS berhenti menjalin segala bentuk interaksi resmi dengan Taiwan, termasuk merundingkan kesepakatan yang bisa berimplikasi pada kedaulatan. Washington, kata Zhao, harus menahan diri untuk tidak mengirim sinyal keliru kepada pasukan separatis kemerdekaan Taiwan. "Otoritas DPP (Partai Progresif Demokratik – partai yang berkuasa di Taiwan) perlu menyerah pada gagasan bahwa mereka dapat mencari kemerdekaan dengan dukungan AS. Jika tidak, semakin tinggi mereka melompat, semakin keras mereka akan jatuh," ucapnya.

Zhao kemudian menegaskan bahwa hanya ada satu China di dunia. “Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China. Pemerintah Republik Rakyat China adalah satu-satunya pemerintahan resmi yang mewakili seluruh China,” ujarnya.

Awal bulan ini, AS dan Taiwan meluncurkan program bersama yang dikenal sebagai “21st Century Trade”. Tujuan dari program itu mengembangkan cara-cara konkret untuk memperdalam hubungan ekonomi dan perdagangan antara kedua belah pihak. China menilai, dialog perdagangan antara AS dan Taiwan akan menimbulkan risiko pada stabilitas di kawasan Selat Taiwan.

China diketahui mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Namun Taiwan berulang kali menyatakan bahwa ia adalah negara merdeka dengan nama Republik China. Taiwan selalu menyebut bahwa Beijing tidak pernah memerintahnya dan tak berhak berbicara atas namanya. Situasi itu membuat hubungan kedua belah pihak dibekap ketegangan dan berpeluang terseret ke dalam konfrontasi.

AS, walaupun tak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan, mendukung Taipei dalam menghadapi ancaman China. Bulan lalu, Presiden AS Joe Biden bahkan menyatakan bahwa negaranya siap mengerahkan kekuatan jika China menyerang Taiwan. Isu Taiwan menjadi salah satu faktor yang meruncingkan hubungan Beijing dengan Washington.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement