Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Inflasi dan Suku Bunga Tinggi AS Diprediksi Terus Lemahkan Rupiah

Rabu 29 Jun 2022 14:30 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petugas menghitung uang dolar AS di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta. Perusahaan riset pasar Astronacci International menyebut inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (Fed) diprediksi menyebabkan dolar AS akan terus menekan rupiah.

Petugas menghitung uang dolar AS di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta. Perusahaan riset pasar Astronacci International menyebut inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (Fed) diprediksi menyebabkan dolar AS akan terus menekan rupiah.

Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Analis nilai pelemahan rupiah akibat suku bunga AS bisa mencapai Rp 16.200 per dolar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan riset pasar Astronacci International menyebut inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) dan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (Fed) diprediksi menyebabkan dolar AS akan terus menekan rupiah. 

CEO Astronacci International Gema Goeyardi mengatakan krisis pasar keuangan dan pelemahan terhadap rupiah diduga diawali dengan perang antara Rusia dengan Ukraina yang menyebabkan kenaikan pada harga minyak dan diikuti dengan inflasi secara besar-besaran di AS. Pada 17 April 2022, Astronacci memberikan prediksinya terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang sudah pasti terjadi untuk menghadang laju inflasi dari AS.

Kenaikan suku bunga The Fed juga mendorong laju penguatan dari Indeks Dolar AS atau US Dollar Index (DXY) yang ke depan akan berdampak negatif terhadap rupiah.

“Kondisi sekarang ini rupiah adalah laggard indicator dari dolar AS. Sehingga ketika terjadinya penguatan terhadap dolar AS secara terus menerus, maka sebentar lagi akan terjadi pelemahan terhadap rupiah secara signifikan," ujarnya dalam risetnya, Rabu (29/6/2022).

Kenaikan suku bunga The Fed yang diawali pada Maret 2022 sebesar 25 bps, lalu mengalami kenaikan lagi pada Mei 2022 sebesar 50 bps, hingga kemudian mencapai 75 bps pada Juni 2022. Penguatan dolar AS tentunya akan membawa dampak negatif terhadap rupiah.

Melihat pelemahan nilai tukar rupiah berada posisi Rp 14.812 per dolar AS di pasar perdagangan pada Senin (27/6/2022), Gema menyebut pihaknya memperkirakan akan terus terjadi penguatan dolar AS hingga target Rp 16.200 per dolar AS.

Terkait analisis pelemahan rupiah, Astronacci memberikan prediksi nilai tukar dolar/rupiah memiliki potensi untuk menguji kembali area support dan membentuk secondary reaction.

Secara indikator momentum mengarah ke bawah pada area jenuh beli (overbought), Hal ini mengindikasikan USD/IDR berpotensi terjadinya pelemahan ke area support Rp 14.710 sebelum kembali menguat untuk mengisi area gap pada area Rp 16.200.

“Sebagai seorang investor, wajib untuk mengetahui apa yang saat ini terjadi di negara kita dan bersiap-siap hal yang terburuk karena dengan demikian, bisa mengamankan portofolio," ucapnya.

Menurutnya untuk memberikan saran beberapa langkah yang dapat diambil dalam menghadapi kondisi pelemahan rupiah tersebut. Pertama, mulai menabung dolar AS. Kedua, carilah saham yang diuntungkan dengan pelemahan rupiah. Ketiga, hindari saham-saham yang dirugikan dengan pelemahan rupiah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA