Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Di Sela KTT G7, Jokowi Lakukan Sembilan Pertemuan Bilateral

Rabu 29 Jun 2022 03:17 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Friska Yolandha

Kanselir Jerman Olaf Scholz (kanan) menyambut Presiden Indonesia Joko Widodo di Kastil Elmau di Kruen, Jerman, 27 Juni 2022. Jerman menjadi tuan rumah KTT G7 di Kastil Elmau dekat Garmisch-Partenkirchen dari 26 hingga 28 Juni 2022.

Kanselir Jerman Olaf Scholz (kanan) menyambut Presiden Indonesia Joko Widodo di Kastil Elmau di Kruen, Jerman, 27 Juni 2022. Jerman menjadi tuan rumah KTT G7 di Kastil Elmau dekat Garmisch-Partenkirchen dari 26 hingga 28 Juni 2022.

Foto: EPA-EFE/CLEMENS BILAN
Jokowi membahas berbagai hal termasuk penguatan kerja sama bilateral.

REPUBLIKA.CO.ID, MUNICH -- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi (KTT) G7 dan negara mitra di Elmau, Jerman, Senin (28/6/2022)  waktu setempat. Di sela pertemuan tersebut, Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan sembilan kepala negara dan organisasi.

"Bapak Presiden Jokowi melakukan sekitar sembilan pertemuan bilateral yaitu dengan Perdana Menteri (PM) India, Presiden Prancis, PM Kanada, Kanselir Jerman, PM Inggris, PM Jepang, Presiden Komisi Eropa, Presiden Dewan Eropa dan Managing Director IMF," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi dalam konferensi pers secara virtual di saluran YouTube resmi Sekretariat Presiden, Selasa (28/6/2022).

Baca Juga

Retno mengatakan, Jokowi membahas berbagai hal termasuk penguatan kerja sama bilateral. Selain itu, isu terkait perang di Ukraina serta dampak terhadap rantai pasok pangan dunia menjadi pembahasan pada hampir semua pertemuan bilateral.

"Di dalam pertemuan-pertemuan bilateral tersebut presiden kembali menekankan bahwa waktu kita tidak panjang untuk menyelesaikan gangguan rantai pasok pangan yang menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga pangan dan pupuk," ujar Retno.

Jokowi menekankan dalam pertemuan-pertemuan tersebut bahwa jika dunia tidak bersatu untuk menyelesaikan masalah pangan dunia, maka yang paling akan merasakan dampaknya adalah ratusan juta atau bahkan milyaran penduduk negara berkembang, dalam hal ini termasuk Indonesia.

"Di sini sangat jelas presiden membawa suara negara berkembang yang memang sangat terdampak dari terjadinya perang di Ukraina," imbuh Retno.

Oleh karena itu kekhawatiran terhadap rantai pasok pangan memang sangat mengemuka di dalam diskusi-diskusi bilateral. Selain itu, Retno menambahkan di dalam pertemuan pertemuan bilateral Jokowi juga menyampaikan mengenai persiapan KTT G20 November mendatang di Bali.

"Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut kita lihat dengan jelas dukungan terhadap presidensi Indonesia masih sangat kuat," ujar Retno.

Setelah pertemuan resminya di Jerman, Jokowi akan bertolak ke Kiev, Ukraina untuk membawa pesan perdamaian. Seusainya, Jokowi juga akan ke Moskow, Rusia untuk juga membahas pesan perdamaian.

"Selanjutnya Presiden akan meneruskan perjalanan ke Ukraina melalui Polandia, dan dalam beberapa hari ini saya juga melakukan komunikasi intensif dengan berbagai pihak dalam rangka kunjungan bapak presiden ke Ukraina dan ke Rusia tentunya komunikasi juga terus kita lakukan dengan Ukraina dan Rusia sendiri," tukas Retno.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA