Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Pemkab Manggarai Barat Dorong Pengembangan Pangan Nonberas

Selasa 28 Jun 2022 03:05 WIB

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi

Pekerja memanen tanaman sorgum (ilustrasi). Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mendorong pengembangan pangan non beras.

Pekerja memanen tanaman sorgum (ilustrasi). Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mendorong pengembangan pangan non beras.

Foto: ANTARA FOTO/Seno
Ini agar pangan lokal tidak terpinggirkan karena pola konsumsi beras yang dominan.

REPUBLIKA.CO.ID, LABUAN BAJO -- Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mendorong pengembangan pangan non beras yakni pangan lokal seperti kedelai, kacang-kacangan, sorgum, dan ubi-ubian.

"Pangan lokal memang posisinya bergeser karena kecenderungan pola konsumsi kita, hanya beras saja. Padahal sesungguhnya itulah pangan kita yang aman, keberadaannya juga menjadi kebiasaan tradisi untuk dikonsumsi," kata Kepala Dinas Pertanian Manggarai Barat Laurensius Halu di Labuan Bajo, Senin (27/6/2022).

Baca Juga

Pengembangan kembali pangan lokal dalam konteks pertanian Manggarai Barat merupakan upaya pemerintah agar pangan lokal tidak terpinggirkan karena pola konsumsi beras yang mendominasi. Dia menyebut salah satu potensi pangan lokal yang cukup banyak yaitu kedelai dengan luas lahan bisa mencapai 1.000 hektare,

Namun, keterbatasan finansial membuat daerah mencari mitra strategis untuk berkolaborasi guna mengintervensi lebih lanjut pengembangan itu. Kini, Laurensius telah melakukan rapat khusus dengan salah satu mitra khusus kedelai dengan pengembangan 500 hektare untuk kedelai di Manggarai Barat. Dia menyebut semua sarana produksi akan diintervensi oleh mitra.

Dia pun menekankan petani untuk kembali fokus pada peningkatan produksi pangan lokal selain beras dan jagung. Masyarakat diminta untuk tidak tidur dan menganggap pangan lokal sebagai pangan nomor dua.

"Masyarakat jangan tidur, jangan anggap kacang, sorgum, kedelai itu pangan yang nomor 2, 3, atau 4. Jangan. Itu harus dibalik. Karena sekarang kita kurangi konsumsi beras, harus yang punya protein nabati," kata dia berpesan.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA