Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

Pemimpin G7 Kumpulkan Dana Lawan Belt and Road Milik China

Senin 27 Jun 2022 08:22 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha

Presiden Joe Biden berjalan ke Kantor Oval Gedung Putih setelah turun dari Marine One, 13 Juni 2022, di Washington. Presiden Joe Biden akan melakukan perjalanan pertamanya ke Timur Tengah bulan depan dengan kunjungan ke Israel, Tepi Barat dan Arab Saudi.

Foto:
Dana 600 miliar dolar AS dikumpulkan untuk membiayai infrastruktur negara berkembang.

Bersama dengan anggota G7 dan Uni Eropa, Washington juga akan memberikan bantuan teknis sebesar 3,3 juta dolar AS kepada Institut Pasteur de Dakar di Senegal. Pengucuran dana ini dalam rangka mengembangkan fasilitas manufaktur multi-vaksin fleksibel skala industri di negara itu yang pada akhirnya dapat memproduksi Covid-19 dan vaksin lainnya.

Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) juga akan memberikan komitmen hingga 50 juta dolar AS selama lima tahun ke Dana Insentif Penitipan Anak global Bank Dunia.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, Eropa akan memobilisasi 300 miliar euro untuk prakarsa selama periode yang sama guna membangun alternatif berkelanjutan bagi skema Belt and Road. Proyek yang dinilai mengancam oleh Barat ini diluncurkan Presiden Cina Xi Jinping pada 2013.

Para pemimpin Italia, Kanada, dan Jepang juga berbicara tentang rencananya dengan beberapa di antaranya telah diumumkan secara terpisah. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tidak hadir, tetapi negara mereka juga berpartisipasi.

Skema investasi China melibatkan pengembangan dan program di lebih dari 100 negara. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan versi modern dari jalur perdagangan Jalur Sutra kuno dari Asia ke Eropa. Namun, pejabat Gedung Putih mengatakan, rencana itu hanya memberikan sedikit manfaat nyata bagi banyak negara berkembang.

Wakil presiden kelompok nirlaba Global Citizen Friederike Roder mengatakan, janji investasi bisa menjadi awal yang baik menuju keterlibatan yang lebih besar oleh negara-negara G7 di negara-negara berkembang. Tindakan itu dapat mendukung pertumbuhan global yang lebih kuat untuk semua.

Negara-negara G7 rata-rata hanya memberikan 0,32 persen dari pendapatan nasional bruto, kurang dari setengah dari 0,7 persen yang dijanjikan, dalam bantuan pembangunan. "Namun tanpa negara berkembang, tidak akan ada pemulihan ekonomi dunia yang berkelanjutan," katanya. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA