Thursday, 3 Rabiul Awwal 1444 / 29 September 2022

KPPU Nilai Ada Kartel Penjualan Tiket Feri Batam ke Singapura

Senin 27 Jun 2022 07:54 WIB

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

Calon penumpang melintas di depan konter tiket kapal feri tujuan Malaysia dan Singapura di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Senin (11/4/2022).

Calon penumpang melintas di depan konter tiket kapal feri tujuan Malaysia dan Singapura di Pelabuhan Internasional Batam Centre, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Senin (11/4/2022).

Foto: ANTARA/Teguh Prihatna
KPPU Medan juga duga ada kartel tiket Lion Group dan Air Asia di Bandara Kualanamu.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil I Medan menduga ada kartel dalam penentuan tarif tiket penerbangan dari dan ke Bandara Kualanamu, termasuk kapal feri penyeberangan Batam ke Singapura dan Malaysia. Kepala Kanwil KPPU Medan, Ridho Pamungkas mengatakan, Lion Grup dan Air Asia menyebutkan harga tiket penerbangan dari dan ke Bandara Kualanamu mahal akibat harga avtur naik.

Meski begitu, KPPU terus menyelidiki kemungkinan ada kartel dalam penetapan tarif penerbangan itu. Termasuk, menurut Ridho, menyangkut tiket feri yang melayani pelayaran Batam-Singapura. Kartel adalah kesepakatan antaroperator untuk sama-sama menaikkan harga agar memaksimalkan keuntungan. Perilaku kartel jelas dilarang sehingga harus dihentikan.

Baca: Pesawat AS dan Singapura Paling Banyak Langgar Kedaulatan RI

Ridho mengatakan, indikasi kesepakatan di antara operator di balik mahalnya tiket feri Batam-Singapura, antara lain adanya pernyataan dari salah satu manajer operasional operator feri yang membenarkan, selama ini pihaknya memang menggunakan BBM yang dibeli dari Singapura. Alasan tersebut yang membuat kesepakatan antara operator dalam menaikkan harga tiket untuk menutupi biaya operasional.

Kedua, meskipun ada kesepakatan untuk menurunkan harga tiket di antara operator dari Rp 800 ribu menjadi Rp 700 ribu, namun harganya masih mahal dan bisa jadi tarif yang terbentuk hasil kesepakatan secara sepihak oleh operator. Ridho mengatakan, kartel akan berdampak terhadap harga jasa yang dibayar konsumen jauh di atas harga kompetitifnya.

Akibatnya, masyarakat akan berpikir ulang untuk melakukan perjalanan, baik untuk bisnis maupun wisata. "Kondisi itu tentunya akan berdampak cukup signifikan bagi pemulihan ekonomi Sumut maupun Batam usai pandemi Covid-19," katanya di Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara (Sumut), Ahad (26/6/2022).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA