Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

IMF Perkirakan Resesi AS Berlangsung Singkat, Ini Beberapa Alasannya

Ahad 26 Jun 2022 13:00 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Pedagang bekerja di lantai di New York Stock Exchange di New York. Dana Moneter International (IMF) memperkirakan resesi Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan berlangsung singkat jika hal tersebut benar-benar terjadi. Selain itu, pengangguran juga tidak akan naik tajam.

Pedagang bekerja di lantai di New York Stock Exchange di New York. Dana Moneter International (IMF) memperkirakan resesi Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan berlangsung singkat jika hal tersebut benar-benar terjadi. Selain itu, pengangguran juga tidak akan naik tajam.

Foto: AP/Seth Wenig
IMF yakin resesi AS tidak terlalu dalam karena bantalan neraca yang dimiliki negara

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Dana Moneter International (IMF) memperkirakan resesi Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan berlangsung singkat jika hal tersebut benar-benar terjadi. Selain itu, pengangguran juga tidak akan naik tajam.

Pejabat IMF mengatakan kondisi AS nantinya tidak akan jauh berbeda dengan resesi pada awal 2000 lalu. Wakil direktur Departemen Dunia Belahan Barat IMF, Nigel Chalk, mengatakan kedalaman resesi akan tergantung pada seberapa besar guncangan ekonomi dan bantalan neraca yang dimiliki AS. 

Menurut Chalk, AS memiliki banyak tabungan dalam sistem yang akan membantu mendukung permintaan dan pasar tenaga kerja. "Semua itu akan membantu mendukung perekonomian, jadi jika terkena guncangan negatif, pemulihan yang terjadi akan relatif cepat," kata Chalk dilansir Reuters, Sabtu (25/6).

Sebelumnya dilaporkan penjualan ritel AS tiba-tiba turun pada bulan Mei dan penjualan rumah masih mengalami penurunan terendah dalam dua tahun. Hal ini menandakan inflasi tinggi dan kenaikan biaya pinjaman mulai mengurangi permintaan.

Bank investasi Wall Street, Goldman Sachs memperkirakan 30 persen peluang ekonomi Amerika Serikat menuju resesi selama tahun depan, naik dari 15 persen sebelumnya. Hal itu menyusul rekor inflasi tinggi dan latar belakang ekonomi makro yang lemah karena konflik Ukraina.

sumber : Reuters
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA