Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Peneliti Dorong Produksi Tiga Komoditas Digalakan dalam Hadapi Krisis Pangan

Sabtu 25 Jun 2022 20:40 WIB

Red: Friska Yolandha

Pekerja memanen tanaman sorgum, di Desa Klatakan, Kendit, Situbondo, Jawa Timur. Peneliti pertanian dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur, Dr Leta Rafael Levis mendorong produksi tiga komoditi lokal di Tanah Air digalakan untuk menghadapi ancaman krisis pangan global.

Pekerja memanen tanaman sorgum, di Desa Klatakan, Kendit, Situbondo, Jawa Timur. Peneliti pertanian dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur, Dr Leta Rafael Levis mendorong produksi tiga komoditi lokal di Tanah Air digalakan untuk menghadapi ancaman krisis pangan global.

Foto: ANTARA FOTO/Seno
Ketiga komoditas itu, yaitu jagung, ubi, sorgum.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Peneliti pertanian dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur, Dr Leta Rafael Levis mendorong produksi tiga komoditi lokal di Tanah Air digalakan untuk menghadapi ancaman krisis pangan global. Ketiga komoditas itu, yaitu jagung, ubi, sorgum.

"Pemerintah dan masyarakat perlu menggalakan kembali produksi pangan lokal seperti jagung, ubi dan sorgum secara masif karena tiga komoditi ini mampu bertahan dalam kondisi kekurangan air," katanya ketika dihubungi di Kupang, Sabtu (25/6/2022).

Baca Juga

Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan upaya menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman krisis pangan global. Menurut dia, perang pangan akan melanda dunia sebagai dampak perang Rusia dan Ukraina yang memicu kenaikan harga pangan dan minyak.

Di sisi lain, alih fungsi lahan di Indonesia juga menjadi persoalan tersendiri karena dialihkan untuk pembangunan infrastruktur maupun pemukiman penduduk. Rafael menyebutkan hasil dalam penelitian disertasi yang dilakukannya, alih fungsi lahan mencapai 27 persen lebih sehingga diperkirakan 40 tahun lagi, Indonesia akan kehabisan lahan persawahan.

"Kekurangan lahan akan berakibat langsung pada menurunnya jumlah produksi pangan khususnya beras," katanya.

Pengajar di Fakultas Pertanian Undana itu menjelaskan selain itu pemanasan global berdampak pada kurangnya pasokan air irigasi ke persawahan yang terjadi secara global. Dalam hitungan para ahli akibat pemanasan global, dalam kurun waktu 10 tahun akan menaikkan suhu sebesar 1 derajat celsius di malam hari.

Setiap kenaikan suhu 1 derajat tersebut akan berdampak pada anjloknya produksi pangan khususnya padi sebesar 10 persen. "Jadi kalau sekarang produksi padi 5 ton per hektare maka 10 tahun yang akan datang akan berkurang sebanyak 10 persen menjadi 4,5 ton per hektare," katanya.

Oleh karena itu pemerintah perlu lebih serius untuk membangun sektor pangan agar kebutuhan dalam negeri tetap aman. Selain itu, sektor ini telah terbukti mampu bertahan dalam situasi pandemi COVID-19 maupun goncangan global lainnya.

"Jadi kekuatan utama kita untuk menghadapi krisis global yaitu pada potensi pangan lokal yang perlu digalakan secara masif," katanya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA