Monday, 30 Safar 1444 / 26 September 2022

Volume Transaksi Tol 2022 Diprediksi Tembus Rp 24 Triliun

Jumat 24 Jun 2022 19:52 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Nidia Zuraya

Pengemudi kendaraan melakukan transaksi di gardu transaksi Gerbang Tol Palimanan, Cirebon (ilustrasi). Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR mengatakan pada tahun ini transksi jalan akan tembus melebih Rp 24 triliun.

Pengemudi kendaraan melakukan transaksi di gardu transaksi Gerbang Tol Palimanan, Cirebon (ilustrasi). Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR mengatakan pada tahun ini transksi jalan akan tembus melebih Rp 24 triliun.

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Pada tahun 2021, total volume transaksi jalan tol mencapai Rp 23,7 triliun.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memprediksi jumlah transksi jalan tol pada 2022 akan mengalami peningkatan. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Danang Parikesit mengatakan pada tahun ini transksi jalan akan tembus melebih Rp 24 triliun. 

“Itu secara konsisten berarti ada pertumbuhan jika dibandingkan 2020 dan 2021,” kata Danang dalam Webinar Market Update Penyelenggaraan Jalan Tol, Jumat (24/6/2022). 

Baca Juga

Dia menjelaskan memasuki 2021, total volume transaksi jalan tol sudah mulai mencapai Rp 23,7 triliun. Sementara pada 2020, total volume transaksi hanya mencapai Rp 22,5 triliun.

Danang optimistis industri jalan tol sangat memberikan prospek yang menjajikan untuk kedepan ditambah dengan kebijakan pandemi Covid-19 yang terus direlaksasi. “Bisa dikatakan industri ini juga sangat tergantung kebijakan pemerintah. Begitu ada relaksasi maka dia kembali ke level normal sebelum pandemi,” tutur Danang. 

Danang menambahkan, hingga akhir 2021 investasi jalan tol sudah mencapai Rp 736,37 triliun. Pembiayaan yang berasal dari bank BUMN sebesar Rp 67,89 triliun. Angka tersebut turun jika dibandingkan pada 2020 yang mencapai Rp 71,59 triliun. 

Hanya saja ada peningkatan pada pembiayaan yang bersumber dari non bank BUMN. “Pembiayaan bank non BUMN mencapai Rp 97,65 triliun namun pada 2020 hanya Rp 75,84 triliun,” tutur Danang. 

Sementara itu, Ketua Komite Tetap Kadin Ganda Kusuma menilai success story Jasa Marga dapat dijadikan acuan untuk badan usaha jalan tol lainnya. Ganda menuturkan, Jasa Marga fokus dalam bisnis jalan tol. 

“Sampai saat ini makmur dan asetnya sudah diatas Rp 100 triliun. Seebetulnya untuk investor pasar modal sangat senang untuk hal seperti itu hanya saja kalau kita lihat memang pengusaha yang masuk ke sektor pasar modal dari jalan tol kurang,” ungkap Ganda. 

Ganda mengharapkan badan usaha jalan tol juga perlu memanfaatkan IPO untuk mencarindana. Sebab, kata Ganda, investasinya membutuhkan jangka panjang dan dapat didorong melakui pasar modal. 

Ganda mengharapkan BUMN di sektor jalan tol juga perlu meningkatkan kolaborasi dengan swasta. “KalaunBUMN mengajak swasta pasti swasta nya juga mau sekarang ini kan mungkin lebih konsentrasi kalau jalan tol sepertinya mungkin dalam hari ini lebih berusaha swasta nya juga di diajak lebih aktif,” ungkap Ganda. 

Direktur Utama Translingkar Kita Jasa Hilman Muchsin mengapresi kebijakan pemerintah terus ditingkatkan dalam pembangunan jalan tol. Hilman menilai regulasi yang dibuat cukup membantu percepatan proses pembangunan. 

“Kita dalam enam tahun terakhir di Padang memang usaha pemerintah di dalam mempercepat pengadaan tanah itu sangat kentara sekali dan sekarang sudah terbukti kami. Dukungans angat nyata dalam bentuk koordinasi maupun dalam dukungan pembiayaan kebijakan,” jelas Hilman. 

Hilman optimistis pengejalan tolnyang saat ini tengah digarap akan segera selesai. Khususnya untung menyambung akses Tol JORR II yang saat ini masih dikebut proses pembangunanya. 

“Ditargetkan hingga akhir tahun 2022 ini akan tersambung secara utuh sehingga JORR II itu bisa terkoneksi dengan baik,” ucap Hilman.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA