Thursday, 8 Zulhijjah 1443 / 07 July 2022

BI: La Nina Akibatkan Produk Hortikultura di Sulut Gagal Panen

Kamis 23 Jun 2022 17:35 WIB

Rep: ANTARA/ Red: Fuji Pratiwi

Petani memanen cabai merah besar (ilustrasi). Kepala bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat mengatakan Fenomena La Nina terpantau menguat di semester kedua 2022 sehingga masih menjadi salah satu penyebab produk hortikultura di sejumlah sentra daerah produksi mengalami gagal panen.

Petani memanen cabai merah besar (ilustrasi). Kepala bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat mengatakan Fenomena La Nina terpantau menguat di semester kedua 2022 sehingga masih menjadi salah satu penyebab produk hortikultura di sejumlah sentra daerah produksi mengalami gagal panen.

Foto: Antara/Seno
Fenomena La Nina yang masih terjadi hingga Mei menyebabkan banya tanaman rusak.

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO -- Kepala bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) Arbonas Hutabarat mengatakan Fenomena La Nina terpantau menguat di semester kedua 2022 sehingga masih menjadi salah satu penyebab produk hortikultura di sejumlah sentra daerah produksi mengalami gagal panen.

"Fenomena alam ini yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, sehingga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia selain angin muson. Tingginya curah hujan juga menjadi faktor yang menyebabkan gagal panen di sejumlah sentra produksi hortikultura," kata Arbonas, di Manado, Kamis (23/6/2022).

Baca Juga

Ia menjelaskan, pada Januari-Februari hasil pantauan indeks BMKG menunjukkan bahwa La Nina sudah berkurang menuju intensitas lemah (indeks sekitar -0,9 hingga -0,8). Namun pada bulan Maret-April, indeks La Nina menguat kembali dan indeks berkisar 1.1 (intensitas sedang).Di samping itu, fenomena La Nina yang menguat menjelang periode pergantian musim hujan ke musim kemarau tahun ini, berdampak pada mundurnya musim kemarau di Indonesia yang berpotensi menyebabkan bergeser siklus tanam dan panen komoditas hortikultura.

Namun demikian, berdasarkan Data Statistik Pertanian Hortikultura (SPH), pada bulan April dan Mei 2022 terjadi peningkatan luas tanam pada berbagai sentra produksi bawang di Jawa maupun Luar Pulau Jawa, sehingga diharapkan harga bawang akan kembali normal pada Juni dan Juli. Sementara pada tanaman cabai rawit, selain masalah kenaikan harga pupuk, kenaikan harga cabai juga disebabkan turunnya produksi akibat musim hujan berlangsung lebih lama akibat fenomena La Nina yang masih terjadi hingga Mei yang menyebabkan banyaknya tanaman rusak.

Selain itu, faktor hama juga ikut memperburuk masalah di berbagai sentra cabai rawit seperti Tuban dan Gorontalo. Sebagai komoditas yang masuk dalam kategori volatile food (pangan bergejolak), pergerakan harga bawang merah, cabai dan tomat memang terjadi secara natural, baik karena faktor musiman, meningkatnya permintaan menjelang HBKN, permasalahan yang tidak terduga (bencana) dan permasalahan lain yang terjadi pada masing-masing daerah.

Demikian pula perkembangan tiga komoditas Bawang, Rica, Tomat (Barito) yang pada akhir-akhir ini secara nasional mengalami peningkatan. Pada Mei-Juni 2022, Rica atau cabai mencapai harga tertinggi sejak 2020-2022 dengan rata-rata nasional Rp80.250, bawang merah secara nasional mencapai harga Rp54.500.

Namun, apabila ditinjau sejak tahun 2020, kenaikan harga-harga tersebut khususnya cabai dan bawang merah pada dasarnya masih normal, meskipun pergerakan harga komoditas tersebut memang lebih tinggi sejak awal tahun 2022.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA