Friday, 9 Zulhijjah 1443 / 08 July 2022

Kemungkinan Resesi AS Picu Prospek Kelam Perekonomian Dunia

Kamis 23 Jun 2022 18:35 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani

Semakin banyak pemain pasar termasuk perusahaan investasi AS, PIMCO yang memperingatkan resiko resensi.

Semakin banyak pemain pasar termasuk perusahaan investasi AS, PIMCO yang memperingatkan resiko resensi.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Perekonomian menghadapi tantangan di tengah meningkatnya resiko resensi AS

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Laporan menunjukkan aktivitas pabrik Jepang pada bulan Juni melambat ke tingkat terendahnya dalam empat bulan karena pembatasan Covid-19 di China mengganggu rantai pasokan. Sementara perekonomian Asia lainnya juga menghadapi tantangan di tengah meningkatnya resiko resensi Amerika Serikat (AS).

Data menunjukkan aktivitas manufaktur Australia pada bulan ini masih stabil. Data-data ini disampaikan sebelum survei purchasing managers' index (PMI)  Eropa dan AS dirilis. PMI merupakan indikator ekonomi yang datanya diambil dari survei bulanan perusahaan-perusahaan swasta.

Angka-angka ini akan diteliti dengan sesama karena pasar finansial resah dengan tajamnya kenaikan suku bunga yang dilakukan bank sentral AS, FED. Pengetatan agresif rencananya juga dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.

"Materi prospek ekonomi makro dunia memburuk sejak akhir 2021," kata agensi pemeringkat kredit internasional Fitch Ratings dalam laporannya, Kamis (23/6/2022).

Lembaga itu memotong prospek pertumbuhan atau oulook growth tahun ini dari 3,5 persen pada Maret lalu menjadi 2.9 persen pada Juni ini.

"Stagflasi yang ditandai inflasi tinggi terus-menerus, angka pengangguran yang tinggi dan lemahnya permintaan, telah menjadi tema resiko dominan dan skenario potensi resiko yang masuk akal pada 1Q22 (kuartal pertama 2022)," tambah Fitch Rating.

Semakin banyak pemain pasar termasuk perusahaan investasi AS, PIMCO yang memperingatkan resiko resensi. Di saat bank sentral di seluruh dunia memperketat kebijakan moneter untuk mengatasi inflasi yang tak kunjung berhenti.

Serangkaian data global terbaru menunjukkan pembuat kebijakan di seluruh dunia berjalan di atas tali ketika mereka mencoba meredakan tekanan inflasi tanpa memberikan tekanan pada ekonomi masing-masing.

Penjualan ritel AS tiba-tiba turun pada bulan Mei dan penjualan rumah masih mengalami penurunan terendah dalam dua tahun. Hal ini menandakan inflasi tinggi dan kenaikan biaya pinjaman mulai mengurangi permintaan.

Tak terduga perekonomian Inggris pada bulan April lalu menyusut. Menambah kekhawatiran perlambatan tajam sementara perusahaan-perusahaan mengeluhkan tingginya biaya produksi.

Di Asia, ekspor Korea Selatan di 10 hari pertama bulan Juni menyusut hampir 13 persen year-on-year (periode yang sama tahun lalu). Data ini menunjukkan resiko pada kawasan yang ekonominya didorong oleh ekspor.  

Eksportir Cina sempat menikmati penjualan yang solid pada bulan Mei usai Negeri Panda melonggarkan pembatasan sosial Covid-19. Banyak pengamat yang memprediksi tantangan di masa mendatang akan lebih berat lagi bagi perekonomian terbesar di dunia itu karena perang Ukraina dan naiknya harga bahan baku.

PMI Manufaktur Jepang au Jibun Bank turun dari 53.1 pada bulan Mei menjadi 52.1 pada Juni. Hal ini menandakan ekspansi melambat ke titik terendahnya sejak Februari.

Sebagai tanda dampak berkepanjangan pandemi perusahaan otomotif raksasa Toyota memotong produksi 50 ribu mobil di seluruh dunia. Pembatasan Covid-19 memicu kelangkaan semikonduktor dan suku cadang.

"Walaupun karantina wilayah Cina baru-baru ini dilonggarkan, waktu pengiriman pasokan diperpanjang bulan lain, meskipun kecepatannya sedikit lambat," kata ekonomi senior Capital Economics Marcel Thieliant.

Pengamat menilai yang paling penting bagi Jepang adalah apakah rebound konsumsi cukup kuat dari tekanan yang dipicu pandemi. Sehingga mampu mengatasi tantangan eksternal seperti perlambatan ekonomi AS.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA