Rabu 22 Jun 2022 14:30 WIB

Gerindra Dinilai Belum Serius Putuskan Berkoalisi dengan PKB

Pengamat menilai Gerindra belum serius memutuskan untuk berkoalisi dengan PKB.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Bilal Ramadhan
Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sepakat menjalin kerja sama untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2024, di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Jakarta, Sabtu (18/6). Pengamat menilai Gerindra belum serius memutuskan untuk berkoalisi dengan PKB.
Foto: Partai Gerindra
Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sepakat menjalin kerja sama untuk pemilihan presiden (Pilpres) 2024, di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Jakarta, Sabtu (18/6). Pengamat menilai Gerindra belum serius memutuskan untuk berkoalisi dengan PKB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelanjutan kabar koalisi PKB dan Gerindra ke tahap lebih serius sepertinya belum terjadi dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan tanggapan Gerindra atas status koalisi yang dinamakan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya oleh Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin masih sangat dingin atau belum terlihat serius.

Pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Muradi mengatakan langkah koalisi PKB dan Gerindra inikan berawal dari pertemuan yang baru sekali antara Cak Imin dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediaman Prabowo Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Sabtu 18 Juni 2022 lalu.

Baca Juga

Namun justru dari pertemuan itu, Muradi melihat, Gerindra seperti masih bersikap dingin. Gerindra belum melihat pertemuan itu perlu diseriusi ke tahap koalisi selanjutnya antara PKB dan Gerindra. Hal itu dikarenakan Gerindra masih memiliki banyak opsi untuk melangkah koalisi sebelum ke koalisi dengan PKB.

"(Koalisi dengan PKB) Itu mungkin jadi opsi untuk Gerindra tapi bukan opsi pertama, karena saat ini Gerindra memiliki banyak opsi untuk dipertimbangkan menjadi koalisi. Jadi wajar bila buat Gerindra pertemuan itu hanya komunikasi biasa," kata Muradi kepada wartawan, Rabu (22/6/2022).

Menurut Muradi pertemuan itu lebih diinisiasi Cak Imin secara personal. Hal ini karena Cak Imin melihat dinamika koalisi yang berkembang, PKB seperti ditinggalkan beberapa rekan separtainya yang telah membentuk koalisi. Seperti KIB terbentuk, kemudian Nasdem mulai mengarah ke Anies dan PKS.

Sedangkan Gerindra memiliki banyak opsi koalisi. Karena Gerindra memiliki kelebihan, seperti partai kedua dengan suara terbesar dan elektabilitas Prabowo masih teratas di berbagai survei capres. Maka opsi-opsi Gerindra misalkan melanjutkan komunikasi dengan PDIP atau juga ke KIB.

"Bahkan jika ke pendukung Anies sendiri, Prabowo masih memiliki nilai tawar sebagai capres," ujar mantan Direktur Program Pasca Sarjana Ilmu Politik di Universitas Padjajaran ini.

Sedangkan PKB, ia menilai, Cak Imin sebagai Ketua Umum harus mengambil momentum dan bermanuver agar tidak ditinggal sesama rekan separtai lainnya. Walaupun ia meyakini PKB dalam bermanuver keluar dari partai-partai yang memiliki patron nasionalis kebangsaan ketimbang partai Islam, seperti PKS, seperti yang diwacanakan Koalisi Semut Merah itu.

Karena kalau PKB menjalin koalisi dengan wilayah lain seperti PKS, justru klaimnya sebagai partai Nahdliyin akan kehilangan pengikutnya. "Bagaimanapun grassroot PKB adalah warga Nahdliyin yang lebih nyaman dengan kelompok nasionalis kebangsaan, seperti Golkar, PDIP dan Gerindra," imbuhnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement