Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Suhu di Planet Ekstrem Ini Bisa Melelehkan Timbal Hingga Platinum

Kamis 23 Jun 2022 05:46 WIB

Rep: MGROL136/ Red: Dwi Murdaningsih

ilustrasi:temuan planet.

ilustrasi:temuan planet.

Foto: EPA-EFE/ESO/L. Calcada
Planet LTT 9779b terletak sekitar 260 tahun cahaya dari Bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat teleskop mencari bintang dan planet yang mungkin mendukung kehidupan, kadang teleskop menemukan banyak hal yang membuat para astronom terheran.

Para peneliti menemukan sebuah planet yang mereka sebut "Neptunus panas". Dunia panas yang mencekam ini mengelilingi mataharinya dalam waktu kurang dari sehari. Planet ini juga memiliki atmosfer yang "seharusnya tidak ada". 

Baca Juga

Dilansir Study Finds, Sabtu (18/6/2022), Astronom Universitas Kansas lan Crossfield mengatakan, data baru dari teleskop luar angkasa TESS dan Spitzer NASA memberikan pandangan pertama pada atmosfer planet ekstrasurya yang ditangkap oleh satelit. Planet LTT 9779b, yang terletak sekitar 260 tahun cahaya dari Bumi dan sangat dekat dengan bintang asalnya.  

"Planet ini tidak memiliki permukaan padat, dan bahkan jauh lebih panas dari Merkurius di tata surya kita, tidak hanya timbal yang melelehkan di atmosfer planet ini, tetapi juga platinum, kromium, dan baja tahan karat," ungkap Crossfield. 

Satu tahun di planet ini kurang dari 24 jam, begitulah cepatnya ia mengitari bintangnya. Ini adalah sistem yang cukup ekstrim.

Perjalanan liar "Neptunus panas" mengelilingi mataharinya bukanlah satu - satunya hal yang mengejutkan para ilmuwan. Studi tentang LTT 9779b mengungkapkan lapisan awan entah bagaimana bertahan di sini.  

Planet ini sangat disinari oleh bintangnya sehingga suhunya lebih dari 3.000 derajat Fahrenheit. Atmosfernya bisa menguapkan semuanya. 

Penulis menambahkan teleskop NASA mengukur cahaya yang datang dari planet saat berputar 360 derajat pada porosnya. Di LTT 9779b, para ilmuwan menemukan titik terpanasnya tepat pada siang hari ketika planet matahari berada tepat di atas kepala.  

Rekan penulis Nicolas Cowan dari Universitas McGill di Montreal menambahkan, planet ini jauh lebih dingin dari yang diduga. Ini menunjukkan bahwa planet memantulkan banyak cahaya bintang yang menimpanya, mungkin karena awan siang hari.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA