Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

Rusia Tuduh Anggota G20 Politisasi Pertemuan Kesehatan Global

Senin 20 Jun 2022 18:06 WIB

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Esthi Maharani

Citra satelit yang disediakan oleh Maxar Technologies ini menunjukkan bangunan yang rusak di sekitar sebuah rumah sakit di Severodonetsk, Ukraina pada Senin, 6 Juni 2022.

Citra satelit yang disediakan oleh Maxar Technologies ini menunjukkan bangunan yang rusak di sekitar sebuah rumah sakit di Severodonetsk, Ukraina pada Senin, 6 Juni 2022.

Foto: ap/Maxar Technologies
Rusia menuduh sejumlah anggota G20 mempolitisasi pertemuan tentang kesehatan global

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW - Rusia menuduh sejumlah anggota Kelompok 20 (G20) mempolitisasi pertemuan tentang kesehatan global di Yogyakarta, Senin (20/6/2022). Sejumlah negara menggunakan pertemuan tersebut untuk mengecam invasi Rusia ke Ukraina, meski Indonesia telah berjuang menjaga forum internasional untuk tetap bersatu dan menolak tekanan dari anggota Barat untuk mengecualikan Rusia.

Sejumlah negara pada forum kesehatan tersebut mengecam bahwa tindakan Rusia di Ukraina merusak sistem perawatan kesehatan di Ukraina. Rusia pun menanggapi kecaman itu dan meminta para anggota G20 untuk tetap fokus pada tujuan utama pertemuan ini.

"Kami meminta rekan-rekan kami untuk tidak mempolitisasi platform kesehatan G20 dan tetap dalam mandat kami dan membahas perawatan kesehatan," kata pejabat kementerian kesehatan Rusia Oleg Salagay dalam pertemuan para menteri kesehatan G20 di kota Yogyakarta, Indonesia.

Perwakilan Amerika Serikat (AS), Inggris, Australia dan Kanada mendesak Rusia untuk mengakhiri agresinya. Wakil Sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Andrea Palm mengatakan, perang Rusia secara langsung bertentangan dengan tujuan perawatan kesehatan G20 dan tujuan G20 untuk mempromosikan kesehatan global.

"Jauh dari mempromosikan kesehatan global, Rusia telah mengganggu layanan kesehatan, menghancurkan fasilitas kesehatan, dan terus menyerang bangunan tempat warga sipil tak berdosa termasuk anak-anak berlindung," kata Palm.

 Rusia menegaskan invasinya ke Ukraina sebagai "operasi militer khusus" untuk mendemiliterisasi tetangganya dan menyingkirkannya dari nasionalis berbahaya yang mengancam penduduknya yang berbahasa Rusia. Rusia membantah menargetkan warga sipil dan fasilitas medis.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiyy mengatakan pasukan Rusia telah menghancurkan ratusan rumah sakit dan institusi lain hingga meninggalkan dokter tanpa obat untuk mengatasi kanker atau tidak dapat melakukan operasi. Pada pertemuan Senin, Rusia keluar dari langkah dengan sebagian besar anggota atas kehati-hatiannya pada dana multi-miliar dolar yang negara-negara G20 telah setujui untuk sementara waktu untuk memperkuat pencegahan dan kesiapsiagaan pandemi.

"Penciptaan yang disebut Dana Perantara Keuangan membawa risiko tertentu," kata Salagay. "Penting untuk mencegah duplikasi lembaga internasional yang ada dan fragmentasi sumber daya keuangan serta melemahnya peran koordinasi WHO dan komunikasi antar program organisasi," katanya.

Salagay mengatakan perlu untuk memastikan pendanaan berkelanjutan bagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menciptakan kapasitas di dalamnya untuk memerangi pandemi. Cina mengatakan pada pertemuan itu bahwa pihaknya menyambut setiap upaya untuk meningkatkan tata kelola kesehatan global dan memperkuat sistem kesehatan nasional. Cina tidak menyebutkan masalah Ukraina.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA