Friday, 21 Muharram 1444 / 19 August 2022

Guru Besar UGM: Penggunaan Kendaraan Listrik Berdampak Besar untuk Kelestarian Lingkungan

Senin 20 Jun 2022 06:45 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Ilustrasi Mobil Listrik

Ilustrasi Mobil Listrik

Foto: Mgrol101
Panut berharap penggunaan EV dapat mengurangi pemanfaatan batu bara, BBM maupun gas.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Panut Mulyono berharap Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam kancah pengembangan kendaraan listrik. Paling tidak, kata Panut, Indonesia mampu menyiapkan sendiri bahan-bahan industri electric vehicle (EV) dalam rantai pasok (supply chain) industri kendaraan listrik dunia.

Rektor UGM masa bakti 2017-2022 ini berharap Indonesia lebih kompetitif. Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, kata Panut, Indonesia punya banyak keunggulan di bidang sumber daya. Namun kenyataannya, kata Panut, keunggulan tersebut belum menjadikan Indonesia makin kompetitif di kancah global.

Baca Juga

“Dibandingkan negara-negara lain yang tak begitu unggul di bidang sumber daya, Indonesia hendaknya menjadikan nikel, kobal, mangan, dan aluminium yang menjadi jantung kendaraan listrik sebagai potensi andalan agar lebih kompetitif,” ujarnya.

Hal tersebut Panut sampaikan dalam Bedah Buku "Towards the Age of Electric Vehicles" yang diselenggarakan Pengurus Pusat KAGAMA. Buku karya Cyrillus Harinowo dan Ika Maya Sari Khaidir itu dibedah secara daring pada Sabtu (18/6/2022).

“Contohnya, biodiversitas kita nomor 2 di dunia. Tbahan baku obat mayoritas masih impor. Kita punya banyak minyak, tapi bahan baku yang dari petrokimia misalnya untuk parasetamol itu masih impor. Mengapa itu terjadi? itu jangan sampai di bidang baterai ini kita seperti itu,” kata Panut.

Panut menjelaskan, penggunaan bahan bakar minyak terus meningkat karena pertumbuhan populasi manusia. Minyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan mobilisasi. Ada kekhawatiran jika bahan bakar ini digunakan secara terus menerus bakal habis.

Akan tetapi, bagi Panut, dampak yang juga dirasakan ialah polusi udara, pemanasan global, permukaan air laut naik, pulau-pulau kecil tenggelam. Udara semakin panas.

Menurut Panut, jika alat-alat transportasi yang sekarang diganti dengan kendaraan listrik, dampak yang ditimbulkan untuk lingkungan akan sangat besar. Namun yang menjadi persoalan, dari mana sumber listrik yang akan digunakan?

“Nggak boleh lagi dari batu bara seharusnya. Kalau kita pakai baterai di kota, pakai mobil listrik, tetapi pembangkitnya masih pakai batu bara, itu sama saja. Artinya bahwa emisi karbonnya tidak akan terkurangi.”

“Maka kita harus berpikir bahwa sumber-sumber pembangkitan listriknya ini sudah harus dari energi terbarukan,” ujar dia menambahkan.

Menurut Panut, electric vehicle (EV) ramah lingkungan dan efisien. Panut berharap, penggunaan EV dapat mengurangi pemanfaatan batu bara, BBM maupun gas seperti yang selama ini diterapkan.

Pemerintah, kata Panut, pernah mempunyai program konsorsium riset di bidang kendaraan listrik. UGM pun terlibat di dalamnya.

UGM, kata dia, mengambil baterai-baterai bekas untuk dimanfaatkan kembali litiumnya. Ini sebagai usaha untuk mengatasi limbah dari baterai. Pasalnya, kata Panut, baterai sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali untuk diambil litiumnya, atau bahan-bahan kimia lain yang terkandung di dalamnya.

“Kelanjutan dari konsorsium riset itu, maka pemerintah juga membiayai penelitian yang dilakukan UGM untuk membuat mobil listrik yang digunakan di bandara-bandara.”

“Ini dengan bantuan dari Pak Menhub, kita sudah berhasil merealisasikan dari konsep produk, produk tipe, sampai pengujian. Salah satunya kita beri nama Gajah Mada Carport Electric,” ujar dia menambahkan.

Panut menjelaskan, Menteri Perhubungan telah membeli produk karya UGM dan sudah diserahkan ke Angkasa Pura I di Kulonprogo, namun pemakaiannya masih harus dilengkapi dengan buku panduan. Sehingga, kata Panut, nantinya bisa digunakan di bandara lainnya.

Panut mengajak berbagai pihak untuk bekerja bersama-sama mendorong penerapan kendaraan listrik di Indonesia. Sehingga nanti semakin banyak mobil listrik yang dipakai, lalu kota-kota kita menjadi bersih, hidup juga menjadi lebih nyaman.

“Kemudian dari sisi ekonomi kita akan menggulirkan ekonomi baru berbasis kendaraan listrik. Tetapi memang bagaimana transisi dari mesin berbahan bakar minyak ke listrik ini harus bagus dalam arti jangan sampai ada kehilangan-kehilangan pekerjaan, sehingga tidak menimbulkan masalah yang baru,” kata dia.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA