Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Lebih dari 50 Pesepak Bola Alami Pelecehan Secara Online

Ahad 19 Jun 2022 11:20 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto

Presiden FIFA, Gianni Infantino. Infantino pun mengungkapkan, FIFA bekerja sama dengan FIFPro akan terus melakukan pemantauan di media sosial di berbagai turnamen besutan FIFA apalagi jelang gelaran Piala Dunia 2022.

Presiden FIFA, Gianni Infantino. Infantino pun mengungkapkan, FIFA bekerja sama dengan FIFPro akan terus melakukan pemantauan di media sosial di berbagai turnamen besutan FIFA apalagi jelang gelaran Piala Dunia 2022.

Foto: AP Photo
FIFA bekerja sama dengan FIFPro akan terus melakukan pemantauan di media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, ZURICH -- Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan Federasi Asosiasi Pesepak Bola Profesional (FIFPro) melansir laporan soal pelecehan yang dialami pesepak bola profesional secara online. FIFA dan FIFPro mengidentifikasi pelecehan yang diterima secara online oleh para pesepak bola selama babak semifinal dan partai final Euro 2020 dan Piala Afrika 2021.

Hasilnya, lebih dari 55 persen pemain yang merumput di laga-laga tersebut mengalami pelecehan secara online, baik saat merumput atau pasca-tampil di laga tersebut. FIFA dan FIFPro pun mendeteksi setidaknya 400 ribu unggahan di media sosial berisi pelecehan terhadap pemain.

Baca Juga

Di dua turnamen tersebut, pelecehan di media sosial terhadap para pemain itu justru muncul dari negara-negara asal para pemain tersebut. Sebanyak 38 persen berasal dari Inggris Raya dan 19 persen berasal dari Mesir.

Inggris dan Mesir merupakan pesakitan di dua laga final dua turnamen itu. Sementara Inggris menyerah di tangan Italia via babak adu penalti di partai final Euro 2020, pertengahan tahun lalu, Mesir dibungkam Senegal di partai puncak Piala Afrika 2021, Januari 2022.

Sebagian pelecehan secara online diketahui ditujukan kepada para pemain berkulit hitam. Meski FIFA dan FIFPro tidak menyebut nama pemain secara spesifik, Sky Sports melansir, Bukayo Saka dan Marcus Rashford menjadi pemain yang paling sering mendapatkan pelecehan di media sosial. Baik Saka dan Rashford diketahui gagal mengeksekusi tendangan penalti di babak final Euro 2020.

Homofobia menjadi pelecehan secara online yang paling sering dialamatkan kepada para pemain, yaitu sebanyak 40 persen. Selain itu, pelecehan bernada rasialisme berada di peringkat kedua dalam ujaran pelecehan yang ditujukan buat para pemain, dengan persentase mencapai 38 persen dari total unggahan yang diidentikasi oleh FIFA dan FIFPro.

''Tugas kami adalah melindungi sepak bola dan dimulai dengan perlindungan terhadap pemain, yang memberikan kebahagian buat kami di atas lapangan. Sayangnya, ada tren yang tidak bisa diterima, yaitu pelecehan secara online kepada para pemain, pelatih, dan sebuah tim. Ini merupakan bentuk diskriminasi. Hal itu tidak bisa diterima di sepak bola,'' ujar Presiden FIFA, Gianni Infantino, seperti dilansir Sky Sports, Ahad (19/6/2022).

Infantino pun mengungkapkan, FIFA bekerja sama dengan FIFPro akan terus melakukan pemantauan di media sosial di berbagai turnamen besutan FIFA. Terlebih, FIFA akan menatap gelaran Piala Dunia 2022.

''Kami akan memantau media sosial, begitu juga dengan pantauan di dalam stadion. Kami ingin aksi kami lebih besar dari kata-kata. Karena itu, kami akan mengambil langkah konkret untuk mengatasi tren ini,'' ujar Infantino.

FIFA dan FIFPro akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk bisa mengatasi ujaran-ujaran kebencian tersebut. Nantinya, ujaran-ujaran kebencian itu tidak bisa dilihat oleh para pemain ataupun para pengikutnya di media sosial.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA