Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

800 Ribu Dosis Vaksin Impor PMK Ternak Kembali Tiba di Indonesia

Jumat 17 Jun 2022 12:37 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Dokter hewan bersiap memberikan suntikan vaksin kepada tenak sapi yang terindikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di pasar hewan Desa Sibreh, Kecamatan Sibreh, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (11/5/2022).

Dokter hewan bersiap memberikan suntikan vaksin kepada tenak sapi yang terindikasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di pasar hewan Desa Sibreh, Kecamatan Sibreh, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (11/5/2022).

Foto: ANTARA/Ampelsa
Virus PMK menyebar secara cepat terutama dari kandang ke kandang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 800 ribu dosis vaksin impor asal Perancis untuk penyakit mulut dan kuku (PMK) ternak kembali tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (16/6/2022) malam. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menargetkan seluruh vaksin itu harus disuntikkan sebelum perayaan Idul Adha pada awal Juli.

"Kita berharap sebelum Idul Qurban, 800 ribu vaksin ini sudah bisa sepenuhnya tersalurkan dan dilakukan secara maksimal. Kita harus kerja lebih keras lagi," kata Syahrul, dalam pernyataan resminya diterima Republika.co.id pada Jumat (17/6/2022).

Baca Juga

Kedatangan vaksin impor selanjutnya akan dilakukan secara bertahap. Kementan telah memesan sebanyak 3 juta dosis vaksin PMK dari Perancis.

Selain itu, Kementan menyampaikan juga akan ada bantuan vaksin dari FAO untuk Indonesia dalam menangani PMK.

Penyuntikan vaksin akan dilakukan kepada hewan ternak yang sehat namun berada di zona yang rawan alias sudah terpapar PMK.

Data PMK terbaru berdasarkan siagapmk.id, mencatat hingga saat ini terdapat 180.709 ternak terpapar PMK. Itu terdiri dari 177.390 ekor sapi, 2.407 ekor kerbau, 593 ekor kambing, 663 ekor domba, serta 16 babi.

Adapun ternak sembuh sebanyak 54.211 ekor, potong bersyarat 1.307 ekor dan mati 899 ekor. Wabah PMK setidaknya telah menyebar ke 193 kabupatan/kota di 18 provinsi.

Syahrul menuturkan, penyebaran PMK paling tinggi masih berada di area lalu lintas hewan baik melalui darat maupun tol laut. Kedua titik ini menjadi laju vital karena selalu terdapat peternak yang nekat menerobos jalur tikus.

Dari situ, virus PMK menyebar secara cepat terutama dari kandang ke kandang."Lalu lintas hewan menjadi salah satu sumber terjadinya pembawa wabah, oleh karena itu kita berharap diperjalanan lalu lintas hewan melalui laut, darat, dan udara melalui pengecekan karantina. Kita berharap yang didarat juga begitu, tentu saja karena banyak jalan-jalan tikus yang menjadi tantangan tersendiri," katanya.

Ia pun kembali mengingatkan, penyebaran wabah PMK sangat cepat bahkan bisa menembus jarak radius 30 kilometer. Karena itu, semua jajaran yang bertugas harus bisa mengendalikan keluar masuknya hewan ternak.

Syahrul menambahkan pemerintah juga terus melakukan percepatan untuk produksi vaksin dalam negeri yang saat ini masih dalam proses pembuatan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya. Rencananya vaksin ini dijadwalkan akan rampung di awal Agustus mendatang.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA