Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Lebih Dari 800 Masjid di Jerman Jadi Target Serangan sejak 2014

Jumat 17 Jun 2022 12:00 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Muhammad Hafil

Seorang pelaku tak dikenal melakukan pembakaran di Masjid Itzehoe. Serangan itu menyebabkan kerusakan parah pada sebuah masjid di Itzehoe, Schleswig-Holstein, Jerman, Kamis (15/10).

Seorang pelaku tak dikenal melakukan pembakaran di Masjid Itzehoe. Serangan itu menyebabkan kerusakan parah pada sebuah masjid di Itzehoe, Schleswig-Holstein, Jerman, Kamis (15/10).

Foto: Anadolu Agency
Lebih dari 800 masjid di Jerman jadi target serangan sejak 2014.

REPUBLIKA.CO.ID,BERLIN -- Laporan kelompok hak asasi manusia Brandeilig menyatakan, lebih dari 800 masjid di Jerman telah menjadi target ancaman dan serangan sejak 2014. Tetapi sebagian besar kasus kejahatan tersebut tidak diselidiki dengan benar.

Brandeilig mencatat hampir 840 insiden serangan, perusakan dan ancaman terhadap masjid antara 2014 dan 2022. Brandeilig telah mendirikan pusat pelaporan pertama di Jerman untuk serangan terhadap masjid.

Baca Juga

Analisis terperinci tentang serangan terhadap masjid pada 2018 mengungkapkan bahwa, para pelaku yang melakukan sebagian besar serangan tidak dikenal, sehingga memicu serangan lebih lanjut terhadap situs ibadah Muslim oleh kelompok neo-Nazi atau ekstremis sayap kiri. Di antara 120 serangan masjid yang tercatat pada 2018, pelaku dapat diidentifikasi di sembilan kasus. Para ahli Brandeilig menekankan, dalam setidaknya 20 kasus, termasuk serangan pembakaran masjid tersangka bertujuan untuk menimbulkan korban tewas atau korban dengan luka parah.

"Secara umum, petugas polisi tiba di tempat kejadian dengan sangat cepat dan segera memulai penyelidikan. Namun demikian, hampir tidak ada insiden yang bisa diselesaikan hingga hari ini," kata para ahli, dilansir Anadolu Agency, Jumat (17/6/2022).

Sosiolog dan ilmuwan politik, Yusuf Sari, mengatakan, separuh dari serangan berasal dari kelompok sayap kanan dan, dalam banyak kasus pelakunya belum tertangkap. Dengan demikian, pelaku masih menjadi ancaman bagi umat Islam.

"Penting juga untuk dicatat bahwa masyarakat sering dibiarkan sendiri setelah serangan dan tidak menerima bantuan, baik spiritual maupun material," kata Sari.

Sari mengharapkan pihak berwenang dapat berbuat lebih banyak dalam memerangi rasisme anti-Muslim. Selain itu, solidaritas dengan komunitas Muslim harus ditingkatkan, dan komunitas masjid harus mendapatkan dukungan, termasuk dukungan keuangan setelah serangan.

Tapi salah satu yang terpenting adalah pengungkapan kasus dan penangkapan pelaku, jika tidak maka akan menjadi insentif bagi pelaku,” kata Sari.

Sari menambahkan bahwa, para ahli mengamati peningkatan jumlah serangan terhadap masjid dan umat Islam. Menurutnya kehadiran tersangka dalam jumlah yang sangat kecil sangat mengkhawatirkan. 

"Sesuatu perlu diubah, terutama pada saat ini, jika kita ingin menangani sayap kanan dan mencegah orang-orang terluka parah di masa depan. Serangan terhadap masjid tidak boleh diremehkan dalam keadaan apa pun. Kami berharap dapat memberikan kontribusi kecil untuk masalah rasisme anti-Muslim dengan laporan kami," kata Sarin

Ekstremis sayap kiri dan pengikut kelompok teror YPG/PKK berada di balik beberapa serangan yang menargetkan masjid. Sebagian besar serangan dilakukan oleh ekstremis sayap kanan atau kelompok neo-Nazi.

Jerman memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat, setelah Prancis. Populasi Muslim di Jerman mencapai hampir 5,3 juta orang, dan 3 juta diantaranya berasal dari Turki. 

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA