Kamis 16 Jun 2022 05:37 WIB

RPH Surabaya Berharap Ada Solusi Atasi Kekurangan Stok Hewan Qurban

Stok hewan kurban di Surabaya langka karena beberapa daerah melakukan pengetatan

Pekerja mengikat tali sapi pada pipa besi di kandang Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/3/2022). Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menyebutkan ketersediaan daging sapi/kerbau pada Maret hingga Mei 2022 sebanyak 234.091 ton, sedangkan kebutuhan sebanyak 202.937,8 ton atau surplus 31.153,4 ton untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan dan Lebaran.
Foto: ANTARA/Moch Asim
Pekerja mengikat tali sapi pada pipa besi di kandang Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/3/2022). Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menyebutkan ketersediaan daging sapi/kerbau pada Maret hingga Mei 2022 sebanyak 234.091 ton, sedangkan kebutuhan sebanyak 202.937,8 ton atau surplus 31.153,4 ton untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Ramadhan dan Lebaran.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Surabaya, Jawa Timur, berharap ada solusi mengatasi kekurangan stok hewan kurban sebagai akibat wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Dirut RPH Surabaya Fajar Arifianto Isnugroho di Surabaya, Rabu (15/6/2022), mengatakan saat ini RPH sudah mendapat 65 pesanan sapi kurban untuk disembelih dan dipotong saat Idul Adha dari takmir masjid dan warga setempat."Tapi ada juga masyarakat atau takmir masjid yang sering menanyakan ketersediaan hewan kurban," ujar dia.

Menurut dia, stok hewan kurban di Surabaya menjadi langka karena beberapa daerah melakukan pengetatan lalu lintas distribusi hewan ternak. Hewan ternak yang keluar daerah harus dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal."Tentunya itu tidak mudah. Kami berharap ada solusi menjelang Idul Adha ini. Mendatangkan hewan kurban dalam jumlah banyak, dengan waktu yang kurang dari satu bulan ini repot," kata dia.

Baca Juga

Fajar mengatakan sebenarnya sudah ada surat edaran dari Gubernur Jatim, yang memudahkan lalu lintas ternak. Namun,  fakta di lapangan, daerah tidak mudah mengeluarkan hewan ternak dengan SKKH dari Dinas Kesehatan kabupaten dan kota."Butuh rapat terpadu dan diskresi. Kuncinya ada di Dinas Peternakan Jatim yang bisa mengatur lalu lintas ternak. Mungkin bisa berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan keamanan untuk bisa memahami, bahwa kondisi ini Idul Adha bukan kondisi normal. Setelah itu dilakukan pengetatan lagi tidak apa-apa," ujar dia.

Pihaknya bekerja keras mencari sapi yang sehat dan layak untuk dipotong menjadi hewan kurban."Faktanya sekarang di pasar hewan banyak yang tutup karena mengalami kerugian besar. Sementara daerah pemasok menjadi daerah wabah PMK sehingga stok daerah di luar wabah tinggal sedikit dan menjadi rebutan," kata dia.

Fajar khawatir harga hewan kurban menjadi mahal karena keterbatasan stok sedangkan permintaan tinggi."Kalau ketersediaan hewan terbatas harga akan naik dan lebih mahal. Tahun lalu kami memenuhi permintaan sekitar 70 ekor sapi kurban dan 180 ekor pemotongan hewan kurban," kata dia.

 

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement