Rabu 15 Jun 2022 02:16 WIB

Walau Disanksi Uni Eropa, Rusia Raup 98 Miliar Dolar AS dari Ekspor Bahan Bakar

Rusia raup 98 miliar dolar AS hasil ekspor bahan bakar fosil selama 100 hari invasi

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Christiyaningsih
 Kapal peletakan pipa Rusia. Studi terbaru mengungkapkan Rusia telah mendapatkan 98 miliar dolar AS hasil ekspor bahan bakar fosil selama 100 hari pertama konflik Ukraina.
Foto: AP Photo/Jens Buettner
Kapal peletakan pipa Rusia. Studi terbaru mengungkapkan Rusia telah mendapatkan 98 miliar dolar AS hasil ekspor bahan bakar fosil selama 100 hari pertama konflik Ukraina.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW – Studi terbaru mengungkapkan Rusia telah mendapatkan 98 miliar dolar AS hasil ekspor bahan bakar fosil selama 100 hari pertama konflik Ukraina. Sebagian besar bahan bakar dikirim ke Uni Eropa (UE).

Laporan tersebut datang dari Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA) yang berbasis di Finlandia pada Senin (13/6/2022) ketika Ukraina mendesak Barat untuk memutuskan semua perdagangan dengan Rusia. Ukraina berharap tindakan itu dapat memotong pemasukan Rusia.

Baca Juga

Awal bulan ini, UE setuju untuk menghentikan sebagian besar impor minyak Rusia. Meskipun blok tersebut bertujuan mengurangi pengiriman gas hingga dua pertiga tahun ini, embargo tidak terjadi.

Menurut studi tersebut, UE mengambil 61 persen dari ekspor bahan bakar fosil Rusia selama 100 hari pertama konflik yang senilai sekitar 60 miliar dolar AS. Dari ekspor itu, diketahui importir utama adalah China dengan 13,2 miliar dolar AS, Jerman 12,7 miliar dolar AS, dan Italia 8,2 miliar dolar AS.

Pendapatan bahan bakar fosil Rusia datang dari penjualan minyak mentah 48,2 miliar dolar AS yang diikuti oleh pipa gas, produk minyak, gas alam cair (LNG), dan batu bara.

Ketika ekspor Rusia anjlok pada bulan Mei karena konflik Ukraina, kenaikan global harga bahan bakar fosil terus mengisi pemasukan dengan pendapatan ekspor mencapai rekor tertinggi.

CREA menyebut harga ekspor rata-rata Rusia sekitar 60 persen lebih tinggi dari tahun lalu.

Beberapa negara telah meningkatkan pembelian mereka dari Moskow, termasuk China, India, Uni Emirat Arab (UEA), dan Prancis. “Saat UE sedang mempertimbangkan sanksi yang lebih ketat terhadap Rusia, Prancis telah meningkatkan impornya untuk menjadi pembeli LNG terbesar di dunia,” kata analis CREA Lauri Myllyvirta, dikutip TRT World, Selasa (14/6/2022).

Myllyvirta mengatakan sebagian besar pembelian dilakukan karena kebutuhan mendesak, Prancis secara sadar memutuskan untuk menggunakan energi Rusia setelah serangan Moskow ke Ukrania. Dia menyerukan embargo bahan bakar fosil Rusia dilakukan agar tindakan selaras dengan perkataan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement