Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Partai BJP India Instruksikan Anggotanya Berhati-hati

Jumat 10 Jun 2022 03:15 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Muslim India memegang plakat menuntut penangkapan Nupur Sharma, juru bicara partai nasionalis Hindu yang berkuasa, ketika mereka bereaksi terhadap referensi menghina Islam dan Nabi Muhammad yang dibuat olehnya selama protes di Ahmedabad, India, Rabu, 8 Juni 2022.

Muslim India memegang plakat menuntut penangkapan Nupur Sharma, juru bicara partai nasionalis Hindu yang berkuasa, ketika mereka bereaksi terhadap referensi menghina Islam dan Nabi Muhammad yang dibuat olehnya selama protes di Ahmedabad, India, Rabu, 8 Juni 2022.

Foto: AP/Ajit Solanki
BJP menginstruksikan para pejabatnya untuk berhati-hati ketika berbicara

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Para pemimpin Bharatiya Janata Party (BJP) yang berkuasa di India telah menginstruksikan para pejabatnya untuk berhati-hati ketika berbicara tentang agama di platform publik. Seruan ini muncul setelah dua politikus BJP dipecat karena pernyataan yang menghina Nabi Muhammad, sehingga memicu protes dari negara-negara Muslim.

“Kami tidak ingin pejabat partai berbicara dengan cara yang menyakiti sentimen agama dari komunitas mana pun. Mereka harus memastikan doktrin partai dibagikan dengan cara yang benar,” kata seorang pemimpin senior BJP dan menteri federal di New Delhi, dilansir Aljazirah, Kamis (9/6/2022).

Dua pemimpin BJP mengatakan, instruksi lisan diberikan kepada lebih dari 30 pejabat senior dan beberapa menteri federal, yang berwenang untuk mengambil bagian dalam debat yang diselenggarakan oleh saluran berita India, yang sering disiarkan langsung ke jutaan pemirsa. BJP adalah partai politik terbesar di dunia, yang memiliki sekitar 110 juta anggota, terutama Hindu nasionalis. Sementara populasi Muslim di India mencapai 13 persen dari total 1,35 miliar penduduk.

Baca juga : 16 Negara Kecam Sikap Anti-Islam Politisi India

Pekan lalu, BJP memecat juru bicaranya Nupur Sharma dan Naveen Kumar Jindal karena melontarkan pernyataan yang menghina Nabi Muhammad. Hal ini membuat negara-negara Muslim geram dan menuntut permintaan maaf dari pemerintah India. Sejumlah negara Muslim memanggil diplomat India untuk memprotes pernyataan anti-Islam yang dilontarkan politisi BJP dalam acara debat di televisi.

Qatar, Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, Indonesia, Afghanistan, Pakistan, dan Iran termasuk di antara negara-negara yang mengecam pernyataan politisi India tersebut. Selain itu, 57 anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengatakan, penghinaan itu muncul dalam konteks kebencian yang semakin intensif terhadap Islam di India dan pelecehan sistematis terhadap umat Islam.

Pada Rabu (8/6/2022), Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian tiba di New Delhi untuk pembicaraan bilateral dengan India. Ini adalah kunjungan pertama oleh seorang menteri senior negara anggota OKI, setelah pernyataan politisi India yang menghina Nabi Muhammad. Iran telah memanggil utusan India di Teheran untuk mengajukan protesnya terhadap pernyataan anti-Islam yang dibuat oleh Sharma dan Jindal.

Sementara itu, polisi di negara bagian Uttar Pradesh, India utara, menangkap seorang pemimpin pemuda BJP karena mengunggah komentar anti-Muslim di media sosial. Harshit Srivastava ditangkap di Kota Kanpur menyusul ketegangan komunal pekan lalu, dalam aksi protes oleh umat Islam yang mengecam komentar kontroversial politisi BJP yang menghina Nabi Muhammad. Pengacara Srivastava tidak bersedia untuk memberikan komentar.

Baca juga : Al-Qaeda Ancam Bom India Gara-Gara Penghinaan Nabi

“Kami menangkap politisi lokal karena membuat pernyataan yang menghasut Muslim,” kata seorang pejabat polisi senior, Prashant Kumar.

Kumar menambahkan bahwa, setidaknya 50 orang ditahan menyusul ketegangan di Kanpur. Kerusuhan sporadis dilaporkan di wilayah lain di India atas komentar anti-Islam oleh politisi BJP.

Anggota kelompok Muslim di India mengatakan, ini adalah pertama kalinya para pemimpin asing yang berpengaruh menentang penghinaan yang dialami oleh komunitas minoritas Muslim. “Suara kami akhirnya didengar, hanya para pemimpin dunia yang dapat mendorong pemerintah (Perdana Menteri India Narendra) Modi dan partainya untuk mengubah sikap mereka terhadap Muslim,” kata Ali Asghar Mohammed, yang menjalankan kelompok hak sukarela untuk Muslim di kota Mumbai.

Di bawah pemerintahan Modi, Muslim India merasakan lebih banyak tekanan mulai dari kebebasan beribadah hingga mengenakan jilbab. Partai BJP membantah adanya peningkatan ketegangan komunal selama pemerintahan Modi. Aturan BJP telah mendorong kelompok-kelompok Hindu garis keras bertindak mempertahankan keyakinan mereka, sehingga memicu peningkatan sentimen anti-Muslim.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa, serangan terhadap anggota komunitas minoritas, termasuk pembunuhan, penyerangan, dan intimidasi terjadi di India sepanjang 2021. Sementara Kementerian Luar Negeri India mengatakan, pernyataan yang dilontarkan politisi BJP sama sekali tidak mencerminkan pandangan pemerintah.

Baca juga : Politisi: India Menanggung Malu Gara-Gara Kasus Penghinaan Nabi

“Kami tidak dilarang berbicara tentang masalah agama yang sensitif, tetapi kami tidak boleh menghina prinsip dasar agama apa pun,” kata juru bicara senior BJP, Gopal Krishna Agarwal.

Modi dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan hubungan ekonomi dengan negara-negara Muslim yang kaya energi, dan merupakan sumber utama impor bahan bakar India. Tetapi hubungan tersebut mendapat tekanan karena dari komentar anti-Islam dari dua politisi BJP.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA