Rabu 08 Jun 2022 19:20 WIB

Masjid Jogokariyan Kembali Gunakan Besek untuk Daging Qurban

Masjid Jogokariyan Yogyakarta kembali menggunakan besek untuk daging qurban.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Bilal Ramadhan
Masjid Jogokariyan Yogyakarta kembali menggunakan besek untuk daging kurban.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Masjid Jogokariyan Yogyakarta kembali menggunakan besek untuk daging kurban.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Jogokariyan tahun ini kembali menggunakan besek bambu untuk pembagian daging qurban. Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Ustadz HM. Jazir ASP menyebut langkah ini sudah mereka lakukan sejak 11 tahun yang lalu.

"Kami sudah rutin menggunakan besek (anyaman bambu) dan daun jati untuk pembagian daging qurban. Sudah sejak 11 tahun yang lalu," ujar dia saat dihubungi Republika, Rabu (8/6/2022).

Langkah tersebut terus dilakukan Masjid Jogokariyan untuk menjaga lingkungan hidup. Sebelumnya pada 2020, disampaikan untuk shahibul qurban digunakan besek sementara untuk warga menggunakan plastik ramah lingkungan.

Tahun lalu, sebanyak 51 ekor sapi dan 34 ekor kambing berhasil disembelih di masjid. Di dalamnya, terdapat tiga sapi super duper dengan berat kurang lebih 1 ton, tujuh sapi super seberat 700 kg.

Untuk tahun ini, Masjid Jogokariyan mentargetkan minimal sama dengan tahun kemarin. Namun, harapannya hal tersebut bisa mengalami peningkatan.

"2.462 bungkus daging kurban, masing-masing 1,3 kg daging murni untuk warga Jogokariyan sesuai jumlah jiwanya (pembagian per-jiwa bikan per-KK) dan 3600 bungkus untuk warga diluar Jogokariyan," lanjutnya.

Selanjutnya, sisa daging murni sekitar 650 kg rencananya akan diolah untuk abon, sebagai tambahan lauk warga miskin di luar Idul Adha atau bantuan korban bencana.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan wadah kantong plastik untuk membungkus daging kurban saat lebaran Idul Adha. Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH SDA MUI), Hayu S Prabowo.

"Idul Adha ada himbauan, pertama kalau bisa jangan menggunakan plastik untuk membungkus daging. Di daerah ada yang menggunakan daun jati, kemudian pelepah pisang bisa dipakai, kalau bisa. Di kampung ini lebih mudah. Intinya yang sudah dicontohkan seperti di Wonogiri menggunakan daun jati, ada pelepah pisang, ada besek cuma agak mahal," kata Hayu.

Hayu mengatakan, penggunaan wadah selain kantong plastik untuk membungkus daging memang belum sepenuhnya dilakukan. Namun sebagian sudah melakukan peralihan dari kantong plastik sekali pakai.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement